Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2016

Kesabaran yang Berbuah Indah

(pelajarislam.com)

Oleh : Sintya, S. Pd *)

Ini kisahku, namaku Dina. Aku adalah anak satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Aku terahir dari keluarga yang amat sederhana. Ayahku bekerja sebagai kuli bangunan yang menenap, dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Walaupum penuh dengan kesederhanaan, kami hidup dengan bahagia. Aku menjalani hidup layaknya seperti anak remaja lainnya, aku sungguh bahagia dengan hidupku.

Namun kejadian 2 bulan yang lalu telah benar-benar merubah hidupku. Dokter memvonis ayahku akan mengalami kelumpuhan permanen. Aku memutar otak apa yang harus aku lakukan dengan ijazah madarah aliyyah ini. Ingin lanjut ke kuliah tapi tidak ada biaya. Hingga tiba pada suatu malam, yang kala itu adalah hari ulang tahunku yang ke 18 tahun. Harusnya aku bahagia tapi tidak untuk detik ini. Aku berfikir seolah-olah hidup tidak adil lagi bagiku.

Tepat pukul 24.00 ponselku  berbunyi, ada SMS masuk “Selamat ulang tahun” belasan SMS nasuk baik dari teman maupun keluarga. Dengan ditemani kesunyian malam, aku menata tekad ini. Aku akan tetap melangkah meskipun dalam kesulitan.

******

Mentari bersinar cerah, secerah hatiku yang kini sedikit lebih baik dari kemarin. Aku memutuskan untuk malanjutkan kuliah dan ini adalah hari pertamaku. Meskipun perekonomian keluarga sudah tidak seperti dulu lagi, ayah tetap memprioritaskan pendidikan menjadi yang nomor satu. Aku berusaha menbagi waktu antara kuliah dan bekerja. Selain untuk biaya kuliahku sendiri juga untuk membantu ibu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, saat ini ibuku juga bekerja menjadi tukang cuci. Di kampus aku memiliki seorang sahabat dekat, sejak SMA kami selalu bersama-sama. Dia selalu ada, baik diwaktu senang maupun susah. Indah, itulah panggilan akrabnya.

Tidak pernah terbayangkan jika hidupku akan menjadi begin, dulu aku amat dimanja. Namun kini jika aku menginginkan sesuatu aku harus bekerja terlebih dahulu. Aku berusaaha tegar menjalani kehidupan ini. Satu tahun berjalan, aku mulai terbiasa menjalani kehidupan semacam ini. Pagi kuliah dan malamnya bekerja di apotek. Hasilnya sudah lebih dari cukup untuk biaya ku,iahku dan membantu pengobatan ayah.

Namun badai kembali menggoyahkan keteguhan dan kesabaranku. Ibu pergi meninggalkan aku dan ayah. Kini aku hidup bersama ayah yang sangat menyayangiku dan kenangan seorang ibu yang meninggalkanku tanpa alasan apa pun. Tapi sedikit pun aku tidak pernah membencinya, karena di telapak kakinya surgaku.

Aku merubah ulang jadwal keseharianku. Selain kuliah dan bekerja, aku juga harus merawat serta menyiapkan keperluan ayah.
Ayah : “Nak, kamu sudah punya uang untuk bayar semester? Katanya besok kmu ujian,”.
Dina : “Belum ada yah,”.
Ayah : “Untuk meringankan biaya, jual saja apa yang ada di rumah ini agar kamu bisa ikut ujian,”.

Seolah-olah pikiranku jauh melayang, memikirkan barang apa yang harus aku jual. Tanpa sadar hingga malam pun tiba, mata ini sulit untuk terpejam. Rasa marah, benci, dan dengki bercampur jadi satu. Aku memutuskan untuk tidak menjual barang apa pun dan aku putuskan untuk tetap berangkat ujian dengan santai  dan melihat apa yang akan terjadi nanti.

Pagi pun tiba aku bergegas berangkat dan menuju ruangan lantai dua, saatnya ujian dimulai. Tiba-tiba terdengar suara keras yang membuat kaget semua penghuni ruangan itu. “Barang siapa yang belum membayar uang semester, dimohon keluar sekarang juga”.

Tanpa pikir panjang, seketika itu juga aku keluar dengan menitikkan air mata dan melangkah menuju taman yang ada di kampus. Suasana sepi dan hening membuat pikirannku tak karuan. Aku merasa tak berdaya, sedang mahasiswa lain terfokus pada ujiannya.

Tanpa aku sadari seorang laki-laki yang tak aku kenal menghampiriku, entah malaikat atau manusia yang berhati malaikat.
Laki-laki : “Nak, kenapa kamu menangis dan mengapa tidak ikut ujian?”.
Dina : “Aku belum bayar semester jadi tidak boleh mengikuti ujian,”.
Lali-laki : “Memangnya berapa yang kamu butuhkan nak?”
Dina : “Rp 600 ribu pak,”.
Laki-laki : “Tunggu di sini sebentar,”.

Laki-laki tidak kukenal tersebut masuk ke mesin ATM yang berada disamping kampus. Kemudian beliau menhampiriku kembali dan menyerahkan uang sebesar Rp 1,8 juta. Bahkan beliau tidak bertanya nama, alamat, aku pun tidak mengetahui namanya. Setelah aku mengucapkan terima kasih beliau langsung pergi.

Kini aku menyadari, ternyata masih banyak orang yang menyayangiku. Bahkan orang tersebut mungkin hanya satu dari seribu manusia yang berhati malaikat.

*****

Empat tahun berlalu, aku gunakan uang tersebut hingga menjadi perantara keberhasilanku menjalani perjalanan hidup yang panjang. Akhirnya selain sukses menyandang (S1) Sarjana Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, aku juga sukses menjadi pengusaha roti. Saat itu, aku gunakan uang sisa membayar SPP dari pemberian laki-laki yang tidak aku kenal kemarin sebagi modal berbisnis roti. Sekarang aku sadar, bahwa sebagai manusia hanya bisa berencana. Hanya Allah SWT yang menentukan. Dengan semangat kerja keras, selalu berusaha, sabar, semua akan dapat tercapai.

*) Alumnus Unirow Tuban dan pengajar Bahasa Indonesia di MA Unggulan Ulumiyyah Kebonharjo.


Sabtu, 19 November 2016

Saiful


(Muslimahdaily.com)


Saiful

Athoirrohman, S. Pd. I *)


Di hari ke tujuh wafatnya ibunya, Saiful masih saja termenung murung di kamar dan tak mau keluar. Pandangan matanya nanar dan berkaca-kaca menandakan masih ada kesedihan mendalam yang tersisa. Pak Dhe Sarjono, paman satu-satunya Saiful yang melihatnya dari seberang pintu kamar hanya menghela nafas dalam seperti ada kesedihan yang tertahan.

"Ful, ayo makanlah, Nak! Sudah seminggu ini kamu makan hanya sedikit saja," suara Pak Dhe Sarjono memecah keheningan kamar Saiful.

Ia hanya menoleh barang sekejap saja tanpa menyahut meski sepatah kata. Pandangan Saiful menatap ke atas langit-langit kamarnya. Ia tampak sangat terpukul dengan kepergian ibunya yang sangat ia cintai. Ibunya yang selama ini mengasuhnya sendirian saja dan tanpa bapaknya yang pergi meninggalkan ibunya semenjak Saiful masih berusia dua bulan.

Dari cerita pamannya, Saiful sedikit tahu tentang gambaran sosok ayahnya adalah orang kota. Ayah Saiful adalah seorang kontraktor yang cukup sukses. Perawakannya tinggi, gagah dan kulitnya bersih. Ibu saiful bertemu ayahnya saat ibunya bekerja di kota Semarang hingga akhirnya mereka menikah. Setelah menikah, ibu Saiful tidak lagi bekerja di kota karena dilarang suaminya dengan alasan untuk fokus mengurus anak saja.

Apalagi sudah hamil, maka ia kembali ke kampung halamannya, di daerah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah sementara sang suami tetap berada di kota untuk mengurus pekerjaannya. Selanjutnya itu menjadi titik tolak cerita kehidupan Saiful dan ibunya. Semenjak kepergian suaminya ke kota, ayah Saiful itu tidak pernah kembali lagi ke desa barang sekali saja. Hingga Saiful lahir dan tumbuh menjadi anaka seusia SMA, tak pernah sekalipun melihat sosok ayahnya selain dari foto yang sudah kusam simpanan ibunya. Yang datang secara rutin hanyalah uang kiriman yang jumlahnya cukup besar untuk sekedar mencukupi kebutuhan hidup di desa.

Keadaan ini menjadikan kehidupan Saiful sangat berbeda dari anak-anak lain di desanya, kiriman uang yang rutin setiap bulan datang dari ayahnya itu sangat lebih dari cukup sehingga kondisi ekonomi keluarga Saiful tergolong kaya untuk ukuran orang desa hanya dengan uang kiriman ayahnya saja. Sehingga ibunya tak perlu lagi bersusah payah bekerja lagi.

Saiful pun sangat dimanja karna ia anak satu-satunya. Hal ini menjadikan Saiful memiliki sifat yang kurang baik.  Ia pun tumbuh menjadi anak yang bandel, badung dan “kemlinthi”  dan bossy sejak masih usia SD. Di sekolah sering sekali Saiful bertengkar dengan temannya, tapi ia punya banyak teman sebab sering mentraktir jajan.

Kenakalan Saiful semakin menjadi-jadi saat ia sekolah SMP. Baru masuk pertengahan semester kelas satu saja Ibunya sudah menerima panggilan guru BK gara-gara Saiful bertengkar dengan anak dari kelas lain. Dari rumah berangkat sekolah tapi tidak sampai sekolah sudah menjadi kebiasaan Saiful. Semakin naik kelas, tabiat Saiful bukan malah surut tetapi semakin akut. Di kelas dua Ia sudah punya geng berisi rata-rata anak bandel di sekolahnya. Saat menginjak kelas tiga menjadi puncak kebandelan Saiful. Ia dan kawan-kawannya kerap membuat keonaran di sekolah, menjadikan kegiatan pembelajaran sekolah terganggu. Bahkan saiful tak hanya sekali dipanggil ke ruang BK karena ketahuan merokok di kantin. Tapi Ia tetap bisa naik kelas karena ibunya rajin menyambangi wali kelas Saiful dengan membawa buah-buahan dan makanan.

Di awal semester pertama kelas tiga, Saiful dikeluarkan dari sekolah karena pihak sekolah sudah tidak bisa mentolerir masalah yang diperbuatnya. Ibu Saiful tak bisa menerima keadaan itu. Berbagai cara pendekatan ia lakukan agar Saiful tetap bisa sekolah di sana. Namun reputasi sekolah menjadi taruhan jika tetap mempertahankan keberadaan Saiful. Sehingga ia tetap dikeluarkan dari sekolah itu dengan status tidak baik.

Ini menjadikan saiful tidak bisa diterima di sekolah lain. Berbagai cara dilakukan ibunya untuk bisa memasukkan Saiful ke sekolah. Tapi melihat catatan buruk Saiful di sekolah pertama, banyak sekolah lain yang enggan menerimanya.

Drop-out dari sekolah, tak menjadikan kenakalan Saiful berkurang justru semakin parah. Ia kerap keluar naik motor yang sudah di complong knalpotnya di jalan-jalan kampung sehingga suara mesinnya menjadi sangat bising menggangu telinga orang-orang. Saiful pun menjadi buah bibir di kampungnya. Ia sudah dikenal dengan kenakalannya. Banyak ibu-Ibu yang menyumpah serapahi saiful saat ia lewat dengan motornya “amit-amit jabang bayi, jangan sampai punya anak seperti saiful,”. Begitulah yang kerap terucap dari orang-orang di kampungnya Saiful.

Mendegar rasan-rasan ini, ibu Saiful pun sebenarnya juga resah. Ia tak enak hati dengan para tetangga dan masyarakat desanya. Sampai-sampai ibunya punya keinginan bagaimana agar saiful dikirim ke kota saja menyusul ayahnya dan sekolah di sana. Tapi ia tak tahu harus kemana mencari ayah Saiful.  Pak Dhe Sardjono, kakak dari ibunya, menyarankan bagaimana kalau Saiful dipondokkan saja daripada di kampung menjadi buah bibir buruk. Paling tidak, di pesantren nanti Saiful bisa belajar untuk manjadi anak yang baik. Saran ini diterima ibunya. Ia pikir inilah solusi terbaik untuk menangani Saiful.

Pondok pesantren Alfalah asuhan KH. Husain menjadi pilihannya. Pondok yang terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah itu dipilih karena tergolong pesantren tua dan kini berkembang sudah punya sekolah formal. Jadi nanti Saiful selain mengaji juga diharapkan bisa melanjutkan sekolahnya yang terputus. Saiful pun diberangkatkan ke sana dengan diantar ibu dan pak dhenya. Abah Husain, panggilan akrab pengasuh pondok Alfalah itu dengan senang hati menerima Saiful meski sang ibu saat sowan telah meceritakan bagaimana tabiat anaknya sewaktu di rumah. Bagi Abah Husain, tugas pendidik memang harus bersedia mendidik anak tanpa pilah-pilah. Senakal-nakal anak, ia tetaplah anak yang punya potensi untuk menjadi baik, sabar dan mendo’akan anak didik itulah kunci dan yang menjadi ruh pendidikan. Abah Husain memang dikenal sebagai kyai yang welas asih nan bijaksana. Keluarga Saiful pun menjadi lega dan sangat berterima kasih atas sambutan baik dan penerimaan Saiful nyantri di sana.

Hari demi hari dilalui saiful di pondok Alfalah. Namun saiful tetaplah Saiful dengan segala tabiatnya di rumah masih saja terbawa. Di pondok itu Saiful menjadi satu-satunya santri yang bandel. Belum genap tiga bulan mukim di sana, Saiful sudah membuat ulah. Ia ketahuan keluar malam ke kampung sekitar pondok untuk bermain play station dan merokok. Saiful pun dibawa santri keamanan pondok untuk dihadapkan pada Abah Husain.

“Ada apa, Kang?” tanya Abah Husain pada santri keamanan yang menghadap.
“Begini, abah. Saiful ini keluar dari pondok untuk main play station di kampung dan merokok. Kebetulan kami memergokinya saat kami keliling kampung untuk tugas patroli malam,” jawab Kang Huda, keamanan senior pondok Alfalah.
“Apa benar begitu, Ful?” Abah Husain menanyai Saiful yang sedari tadi menunduk gemetaran.

Saiful tak berani mengangkat wajah dan bersuara, hanya anggukan pelan saja saat ditanya Abah Husain.

Kang Huda memberanikan diri matur, ”Apa hukuman yang sebaiknya diberikan untuk Saiful ini, abah? Mengingat dua pelanggaran yang dilakukan, main play station dan merokok,”.

Abah Husain diam sejenak kemudian berucap dengan suara tegas tapi lembut, ”Sudah, bawa Saiful kembali ke kamarnya saja,”. Kalian tutup gerbang pondok dan lanjutkan tugas kalian seperti biasanya!”.

Kang Huda tak berani membantah apa yang diperintahkan Abah Husain, Ia pun membawa Saiful kembali ke kamarnya dengan rasa penasaran mengapa abah tidak memberi vonis hukuman pada Saiful?. Padahal menurut aturan pondok, apa yang dilakukan Saiful ini tergolong pelanggaran berat yang hukumannya tidak ada toleransi.

Sekembalinya di kamar, Saiful merenung penasaran mengapa dirinya tak dihukum oleh Abah Husain. Tapi di sisi lain ia juga senang karena lolos dari hukuman. “Ah, biarlah, yang penting aku aman, tak dihukum,” gumamnya.

Dua hari setelah kejadian itu, setelah jamaah magrib, Abah Husain mamanggil Saiful untuk menghadap. Saiful pun menghadap dengan membawa perasaan khawatir bercampur rasa takut. Tapi ia tetap menghadap meski dengan menahan gemetar. ”Wah, jangan-jangan abah memanggilku karena kejadian kemarin?” kata Saiful dalam hati.

Setiba di ruang tamu ndalem abah, Saiful langsung dikagetkan dengan suara abah dari balik korden ruang tamu, “Ful, kamu bisa naik motor?”.
“Saget, abah,” jawab Saiful dengan suara yang agak tertahan bercampur penasaran mengapa abah menanyai itu.
“Antarkan abah ke acara kondangan di rumah pak Rt kampung sebelah. Biasanya yang antar Kang Huda tapi dia sedang belanja disuruh ibu tadi. Jadi abah minta kamu saja yang antar,”.
“Inggih abah,” Saiful tak berani menjawab lain kecuali mengiyakan dawuh abah.
“ayo berangkat, tak enak nanti kalau lama ditunggu Pak Rt,”.

Seusai kondangan dan pamitan pulang pada pak Rt, abah menghampiri Saiful yang menunggui motor. “Ayo pulang Ful, pelan-pelan saja. Nggak usah terburu-buru,” perintah abah kepada saiful saat menyalakan mesin motor.
“Inggih, bah,” jawab Saiful pelan.
Mereka pun berangkat dengan mengendarai motor matic milik abah. Di perjalanan, Abah Husain membuka percakapan dengan Saiful yang sedari tadi diam saja.
“Ful, mau sampean abah ceritai?” tanya Abah.

“Inggih, bah” jawab Saiful dengan pelan.
Abah Husain pun memulai ceritanya. Kisah yang Abah Husain dapat sewaktu masih nyantri di pesantren Jawa timur.

Begini Ful, Diceritakan seorang Kyai Fulan, beliau sangat masyhur di daerahnya. Bukan saja kealiman ilmunya tetapi budi pekertinya juga sangat baik. Suatu saat sang Kyai diundang kenduri oleh warganya. Maka beliau bergegas menghadiri undangan tersebut dengan mengajak seorang santri sebagai pendamping.

Jamuan pun dihidangkan dan kyai juga tidak ketinggalan menikmati hidangan yang disediakan
tuan rumah. Selesai makan sang kyai merasa ada "sesuatu" yang mengganggu pada giginya. Ya ada sisa daging yang menyelilit, kyai sudah berusaha menghilangkan sisa makanan tetapi gagal. Rupanya tidak ada alat untuk digunakan menghilangkan sisa makanan itu.

Setelah selesai sang kyai segera pulang. Tapi dia masih terganggu oleh sisa makanan. Karena terganggu maka sang kyai berusaha mencari alat untuk menghilangkan sisa makanan itu. Di sebuah perkebunan beliau melihat pagar dari bamboo. Tanpa pikir panjang beliau memerintahkan santrinya untuk mematahkan bambu yang akan digunakan menghilangkan sisa makanannya.

Waktu terus berjalan, kemudian sang Kyai Fulan meninggal dunia. Suatu hari sang santri yang dulu mengantar sang kyai berziarah. Entah mengapa sang santri tertidur di makam sang kyai. Di tengah tidurnya sang santri bermimpi bertemu dengan sang kyai itu.

"Assalamu'alaikum wahai kyai," kata Santri.
"Walaikum Salam santriku," jawab kyai.
"Waduh kyai kenapa badannya seperti ini? Bukankah kyai ahli ibadah," tanya santri penasaran karena melihat badan kyainya penuh sisa cambukan.
"Oh santriku, memang aku ahli ibadah. Namun kau masih ingatkan waktu pulang dari kenduri. Aku mencuri bambu, dan rupanya si pemiliknya tidak rela. Sehingga aku disiksa demikian," kata sang kyai sambil menunjukkan luka-luka di badannya.
"Santriku, tolong aku. Mintakan kehalalan dari pemilik kebun yang kucuri pagar bambunya itu," kata kyai sambil menangis.

Sang santri terjaga dari tidurnya. Ia segera pulang dan menemui pemilik kebun yang dulu pagar bambunya dicuri sang Kyai. Sang santri menceritakan hal ihwal yang menimpa kyainya. Kemudian pemilik kebun menghalalkan apa yang telah diambil sang kyai.

Pada waktu yang lain sang santri bermimpi bertemu dengan sang kyai. Dalam mimpinya kali ini sang santri melihat wajah sang kyai berseri-seri dan tubuh yang bersinar-sinar. Rupanya setelah sang pemilik kebun menghalalkan, maka Allah pun juga mengampuni dosanya.

Renungkan cerita tadi Ful, agar kita terhindar dari perbuatan yang tidak terpuji, meskipun itu sangat sepele. Kalimat terakhir Abah Husain itu bagai palu yang memukul dinding hati Saiful. Ia yang sedari tadi diam menyimak cerita Abah Husain semakin terdiam tak berkata-kata. Sesampai di pondok, Saiful masih merenungi ucapan abah. Semalam suntuk ia tak bisa tidur. Berbagai perasaan berkemacuk di dadanya, mulai dari  pelanggaran yang ia lakukan dan dilaporkan ke abah, sampai ia tak dihukum, dan cerita dari abah tentang kyai serta pesan yang disampaikan setelahnya.

Pagi-pagi setelah subuh, dengan menahan kantuk yang dahsyat, ia dikagetkan lagi dengan panggilan dari pengeras suara kantor pondok yang menyuruhnya untuk segera ke kantor.
“Ada ada apa lagi ini,” gumam Saiful sambil berlari kecil menuju kantor.

Sesampainya di kantor, ia terkejut melihat Pak Dhe Sardjono sudah menyambutnya dengan wajah seperti menahan tangis.
“Ful, ayo pulang, Nak., ibumu tidak ada”
Duerrrrrrr! Seakan suara petir halilintar menyambar Saiful yang berdiri mematung.

*** Selesai ***

*) Pegiat musik padang pasir dan pengajar Bahasa Inggris di MA Unggulan Ulumiyyah.