Jumat, 30 September 2016

Ta’ziran Unik ala MTs Ulumiyyah

TA’ZIRAN UNIK : Sejumlah siswa MTs Ulumiyyah yang tidak mengikuti shalat dhuha berjamaah mendapatkan ta’ziran shalat berjamaah di Halaman MTs Ulumiyyah.
Al-Ittihad, edisi 5 – Setiap sekolah atau madrasah, sudah pasti memiliki aturan yang sudah disepakati bersama. Aturan tersebut sebagai benteng untuk membatasi kenakalan siswa yang belakangan kerap terjadi.

Begitu juga di MTs Ulumiyyah. Lembaga pendidikan yang terletak di Desa Kebonharjo Kecamatan Jatirogo itu, memiliki aturan sendiri untuk para peserta didik. Aturan itu termasuk meliputi model ta’ziran atau hukuman.

Soal model ta’ziran, MTs Ulumiyyah tergolong memiliki model yang cukup unik. Ada beberapa macam ta’ziran yang sudah biasa diterapkan di lembaga yang berada di bawah naungan Yayasan Ponpes al-Barmawy itu.

Menurut Pembina OSIS MTs Ulumiyyah, Ustadz Da’in Munthoha, ta’ziran yang paling banyak diterapkan di lembaga ini adalah shalat dhuha di halaman madrasah. Biasanya ta’ziran tersebut diberlakukan kepada siswa yang melanggar aturan tidak ikut shalat dhuha berjamaah.

“Siswa yang tidak mengikuti jamaah shalat dhuha diminta untuk shalat di tengah-tengah halaman madrasah dan sudah pasti dilihat oleh semua siswa yang sedang menjalankan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Diharapkan mereka akan merasa malu dan tidak akan mengulanginya kembali,” ujar ustadz yang juga merupakan pelatih futsal ini.

Menurut ustadz pengampu olahraga ini, MTs Ulumiyyah sama sekali tidak menerapkan hukuman dengan model kekerasan. Sebab, hukuman model itu diyakini tidak akan membuat siswa menjadi jera justru rentan menimbulkan perasaan dendam.

“Apa pun ta’zirannya, yang terpenting adalah tidak memberatkan siswa. Ta’ziran harus memberikan edukasi kepada siswa tanpa disertai dengan unsur kekerasan sekecil apa pun. Apalagi jika sampai menghilangkan hak-hak yang seharusnya dimiliki siswa,” imbuhnya.

Seorang siswa kelas IX MTs Ulumiyyah, Zufidah mengatakan, pengaruh model ta’ziran yang diterapkan di madrasah cukup berpengaruh terhadap sikap siswa secara keseluruha. Siswa kan berusaha bersikap lebih disiplin dan mentaati aturan untuk terhindar dari ta’ziran.

“Awalnya mereka mentaati atura dan disiplin karena takut dita’zir. Namun, lama kelamaan hal itu akan menjadi kebiasaan positif yang dilakukan oleh siswa,” tandasnya. (Miftah-Habibah-red)

Selasa, 27 September 2016

Bakal Ajak Istri dan Kedua Orang Tua ke Tanah Suci

PAPARKAN VISI : Nasirussaad saat memaparkan visi dan misi dalam proses pemilihan Presiden OSIS MA Unggulan Ulumiyyah awal tahun 2016 lalu.
Al-Ittihad, edisi 5 - Sosok yang satu ini memang sudah tak asing lagi di jagad bumi Ulumiyyah. Maklum saja, saat ini jabatan tertinggi di kepengurusan OSIS MA Unggulan Ulumiyyah Kebonharjo berada di tangannya. Sudah hampir setahun ini ia adalah Presiden OSIS MA Unggulan Ulumiyyah.

Tahun ini, semua hal tentang kegiatan OSIS berada di genggaman cowok penghobi kemolekan alam ini. Nama lengkapnya adalah Nasirus Saad. Ia adalah siswa sekaligus santri Ponpes Nahdlatut Tholibin al-Islamiyyin (NTI) Kebonharjo Jatirogo yang datang dari kota Bengawan Solo, Bojonegoro.

Kak saad, begitulah siswa lain biasa memanggilnya. Saat ini ia duduk di kelas XII-B MA Unggulan Ulumiyyah. Dia terlahir dari pasangan Bapak Anwar dan Ibu Nur Sholihah. Masa kanak-kanaknya dihabiskan di kota yang terkenal akan dongeng Angkling Darmo tersebut. Uniknya, kak Saad butuh waktu 3 tahun untuk menamatkan pendidkan TK-nya. Alasan masih terlalu kecil untuk menginjak jenjang berikutnya.

Semenjak menginjakan kaki di MA Unggulan Ulumiyyah, kak Saad paling getol menggeluti dunia kaligrafi. Jari-jemarinya mulai mahir menari di atas lembaran-lembaran putih hingga tercipta bentuk mushaf-mushaf Al-Qur’an yang begitu indah. Dia pun pernah meraih juara II dalam lomba kaligrafi tingkat kecamatan.

“Sebenarnya saya tidak begitu minat dengan prestasi. Saya takut sombong sebagaimana kebanyakan orang ketika mendapatkan nikmat prestasi,” ujarnya.

Bujang yang terkenal dengan ketegasannya ini memiliki cita-cita cita-cita begitu mulia. Selain menjadi Direktur Utama di perusahaan yang akan dibuatnya sendiri, ia juga ingin pergi ke tanah suci bersama kedua orang tua dan istrinya kelak.

Entah kapan. Namun cita-cita itu akan selalu ia usahakan agar terwujud sempurna. Oleh karena itu, ia bertekad untuk terus mencari dan memperdalam ilmu agar memiliki bekal hidup di dunia dan akhirat. Sebuah cita-cita yang sangat mulia. “Saya ya saya. Saya bukan orang lain. Itulah prinsip yang selalu menjadi pedoman dalam hidup saya,” ujarnya.

Disinggung soal tentang jabatan yang saat ini diembanya, ia pun yakin bersama kabinetnya sekarang mampu bekerja lebih baik lagi dari yang sebelumnya. “Buat teman-teman dimana pun kalian berada, teruslah berdoa, kejarlah cita-ciamu, dan jadilah seperti kehidupan kupu-kupu terbang bebas ke angkasa,” pungkasnya. (Fatimah/Mimin-Wid)

Minggu, 25 September 2016

Peran Pesantren Salafi dalam Modernisasi

Oleh; Arsilia *)

Dilihat dari berbagai lensa kehidupan, pihak yang memotori kuatnya dunia Islam adalah para generasinya sendiri. Terkait itu, banyak dari kalangan yang merekomendasikan bahwa salah satu hal yang dapat digunakan untuk membentuk generasi Islam adalah pesantren salafi. Dimana tempat yang pertama kali dirintis oleh para walisongo. Inilah yang menjadi salah satu tonggak utama penyebaran islam di Indonesia.

’Pesantren Salafi - Modernsasi’ topik yang kini marak diperbincangkan. Pengertian pesantren menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah tempat para santri menimba ilmu. Sedangkan Salafi adalah kuno, serta Modernisasi yang berarti pembaharuan model yang tentunya tidak menggunakan model salafi yang ‘berupa utawi iki iku’.

Modernisasi merupakan hal baru yang mampu mempengaruhi segala aspek kehidupan baik dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama. Dari yang anak-anak, remaja, dewasa, sampai lansia yang mana kesemuaan dari ini dimotori oleh orang barat. Kesemuaan dari ini semua banyak yang tidak sesuai dengan ajaran salafi agama islam.

Salafi mengajarkan hidup sosial, gotong royong, kebersamaan. Namun kehidupan yang kini tengah terjadi di kalangan masyarakat sangat jauh dari itu. Paham individualisme telah mengisi setiap sudut kehidupan.

Berbeda dengan sistem yang digunakan salafi. Sistem ini selalu mengikuti jejak salafus sholeh. Mengkedepankan akhlak, moral dan hidup sosial.  Lebih-lebih kehidupan yang sudah tercermin dalam pesantren salafi, semuanya tidak pernah lepas dari goton royong dan sosial. Semua program yang diusung melibatkan banyak orang/santri seperti ro’an, musyawaroh, sorogan kitab, sampai bahtsul masail. Semuanya menderminkan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Kehidupan yang saling bertolak belakang, mungkinkan mampu bersanding dan berjalan selaras? Sedangkan kehidupan masing-masing dari mereka memiliki unsur pribadi yang sangat signifikan. Modernisasi telah mengunggulkan teknologi sampai kancah nasional dan mempengaruhi kepribadian yang mengarah pada sifat individulistik. Sebaliknya, salafi unggul dalam tatanan akhlak dan moral namunhanya mencakup bagian tertentu.

Pandangan penulis, dari kenyataan obyek jika dipandang dari lensa praktiknya, pesantren dapat berperan aktif dan bersanding dengan dunia modernisasi. Tentu saja dengan tetap membawa fungsimua.

Pertama, pesantren sebagai pembatas. Sub-sub yang sudah tersebar melalui teknologi sangatlah sulit dihentikan yang bisa dilakukan hanyalah membatasi. Tidak sepatutnya jika semua yang diproduksi dalam kecanggihan teknologi harus dikonsumsi. Karena dalam praktiknya pesantrenlah yang paling unggul mencetak moral dan akhlak yang baik. Pesantren membekali ilmu agar bisa membatasi mana yang layak diasumsi dan mana yang tidal layak.

Kedua,  Pesantren sebagai media penyaring. Pilah pilih dalam hal baru sangatlah penting. Di sinilah pesantren yang akan berperan yaitu dengan tetap mempertahankan apa yang telah diajarkan syariat. Tentunya juga mampu menyaring perkembangan akan kecanggihan teknologi yang kini hampir menguasai seluruh dunia. Sehingga dalam realisasinya, pesantren tidak dianggap senagai hal yang kuno.

Ketiga, Pesantren sebagai benteng. Semua perubahan pembaharuan dengan berbagai macam bentuknya, kebanyakan dari itu semua dapat merusak akhlak dan moral para generasi saat ini. Soal ini, pesantren dapat difungsikan sebagai  benteng untuk para generasinya. Wallahu’alam.

*) Siswa Kelas XII-A pengurus OSIS MA Unggulan Ulumiyyah

Minggu, 18 September 2016

Mengenal Sosok KH Fatchurrahman, Hafal Alfiah di Usia 13 Tahun

KH Fatchurrahman Kebonharjo


Al-Ittihad –  Bagi kalangan warga Nahdliyyin, tentu sudah tidak asing lagi dengan sosok KH Fathcurrahman. Pengasuh Pondok Pesantren Nahdatuth Tholibin Al-Islamiyyin (PP NTI) Kebonharjo ini, sudah sangat dikenal di kalangan Nahdliyyin lantaran kegigihan beliau dalam melakukan dakwah. Namun, belum banyak yang tahu perjalanan panjang kyai yang terkenal tawadhu’ ini, hingga akhirnya bisa menegakkan panji Islam, khususnya di bumi Ronggolawe, Tuban.

Kyai Fatchur lahir di Desa Kebonharjo Kabupaten Tuban sekitar tahun 1933. Saat itu, Tuban masih dalam penguasaan kolonial Belanda. Kyai Farchur kecil sudah mendapatkan ddikan keras tentang agama dari sang abah, KH Ridlwan. Bahkan, sangking khawatir pendidikan agamanya terbengkalai, KH Ridlwan melarang keras sang putra untuk ikut bersekolah di Sekolah Rakyat (SR-sebutan Sekolah Dasar zaman dulu).

Saat berbincang dengan reporter Al-Ittihad, Rabu (15/5) siang, kyai Fathcur menceritakan, meskipun sang abah melarang, beliau tetap ngotot secara sembunyi-sembunyi bersekolah di SR. Dalam pikiran beliau saat itu, adalah ingin mendapatkan ilmu umum, selain ilmu agama.

“Aku nyolong-nyolong melu SR, mergo pengen oleh ilmu umum. Lak ilmu agomo kan kan wes sinau karo bapak,” kenang belau berkaca-kaca.

Bahkan, untuk mengelabuhi sang abah, setiap akan berangkat ke SR, beliau tetap memakai sarung. Setelah sampai pada lokasi sekolah yang saat itu terletak di Jatirogo, dan berjarak sekitar dua kilo, barulah sarung dilepas dan digantikan dengan celana panjang. Pada akhirnya, kyai Fatchur tidak sampai menyelesaikan pendidikan di SR hingga lulus. Itu lantaran pada saat beliau menginjak kelas enam, Kyai Ridlwan memergokinya.

“Aku gak sampai lulus. Lha wong pas kelas enem konangan karo bapak. Bapak yo duko, banjur aku kon mendek gak oleh sekolah maneh,” tutur kyai Fatchur menerawang.

Meskipun kyai Fathcur tetap bersekolah di SR selama hampir enam tahun, namun ilmu pesantren sama sekali tidak ditinggalkan. Buktinya, di bawah arahan sang abah, beliau sudah hafal nadhoman Alfiah pada saat umur 13 tahun.

“Aku apal Alfiah yo umur 13 tahun. Seng nyemak yo bapak kui,” kata kyai Fatchur lagi.
Setelah ketahuan tetap ikut pendidikan SR, maka sang abah langsung membawa beliau ke Kajen, Pati untuk nyantri pada KH Thohir. Di sana, kyai Fatchur belajar di Madrasah Diniyyah Matholek. Karena rasa ingin tahu terhadap ilmu umum, setelah lulus dari madrasah Matholek, beliau kembali mencicipi pendidikan umum. Kali ini beliau bersekolah di Sekolah Menengah Islam (SMI).

Saat itu, sang abah juga tidak mengetahuinya. Namun belum sampia lulus, lagi-lagi sang abah, KH Ridlwan memergoki. Kontan saja, KH Ridlwan langsung membawa beliau ke Watucongol, Magelang. Di bawah asuhan KH. Thohir, secara total beliau nyantri selama tujuh tahun.

“Bar konangan bapak sekolah neng SMI, langsung aku dijak neng Solo. Karepe bapak dikon nyantri neng gone KH Idris. Nanging, jalaran neng kono sistem pesantrene wes owah, bapak marakno aku neng Watucongol Magelang. Sinau karo mbah kyai Dalhar,” cerita beliau.

Pertama kali sowan kepada KH Dalhar, sang abah dipesani agar selepas di Watucongol mengarahkan KH Fathcur untuk nyantri ke Tegaldowo. Baru delapan bulan bulan berguru, KH Dalhar wafat. Maka, KH fathcur pun menjalankan pesan KH Dalhar untuk melanjutkan nyantri di Tegalrejo kepada KH. Chudori.

“Nyantri lagi entuk wolong ulan mbah Dalhar kapundut. Banjur aku ngelanjutno neng Tegalrejo, koyok seng dipesenke mbah Dalhar naliko sugeng,” imbuh beliau.

Di Tegalrejo KH Fathcur nyantri selama kurang lebih delapan tahun. Bahkan. Karena pengetahuan agamanya dianggap sudah mumpuni, KH Fathcur sempat ditugasi menjadi menjadi seorang naib. Saat itu, sekitar tahun 1980-an, beliau ditugaskan di daerah Weleri, Kendal. Lagi-lagi, karena tidak setujunya abah, beliau harus melepas tugas menjadi naib.

Setelah delapan tahun menimba ilmu di Tegalrejo, KH Fathcur melanjutkan berpetualang nyantri di Sarang. Ma’hadil Ilmi As-Syar’iyyah (MIS), asuhan KH Imam bin Syuaib, menjadi pilihan beliau. Di sana, beliau nyantri selama empat setengah tahun untuk melengkapi ilmu agama yang sudah diperoleh sebelumnya.

“Dadi neng Sarang kuwi aku mondok terakhir. Bar songko Kajen, Pati, Watucongol, Tegalrejo banjur Sarang. Bar kui aku kawin,” ungkap beliau.

Dari perjalanan panjang memperdalam ilmu agama itu, ada sebuah prinsip yang selalu terpegang dan hingga kini ditanamkan kepada santri beliau. Prinsip tersebut, sesuai dengan apa yanga da dalam Ta’limul Muta’alim, terkait dengan proses mencari ilmu yang harus merasakan kangelan (kesulitan), tirakat, mikir tenanan (belajar sunggh-sungguh), sue mangsane (lama waktunya) serta milih guru (Bisa memilih guru yang ‘alim).

Satu lagi sejak pertama kali nyantri, KH Fathcur selalu menempati gothaan yang sebelumnya ditempati oleh ulama’-ulama’ besar. Gothaan-gothaan itu antara lain bekas KH Achmad Jazuli Ustman, pendiri Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso Kediri. (Ma’sum/Wahab)