Rabu, 23 November 2016

Rintis Jalan Entrepreneur, Tak Segan Cari Rumput Setelah Mengajar

Ustadz Da'in Munthoha


Al-Ittihad – Sekilas dari mimic wajahnya, ustadz yang satu ini terlihat pemarah. Namun anggapan itu salah. Ternyata ustadz yang terkenal kedisiplinannya itu bersifat humoris dan baik hati.

Hal itu terlihat pada saat ia menghukum siswa bermasalah. Hukuman yang ia berikan itu tidak pernah mencerminkan kekerasan. Paling banter, siswa yang bermasalah dengan aturan hanya diminta untuk membersihkan area sekolah.

Ustadz itu bernama Da’in Muthoha S.E. Guru olahraga sekaligus pengajar IPS di MTs Ulumiyyah Kebonharjo ini adalah putra tunggal dari pasangan Bapak Warsidi dan Ibu Karsini. Ia sangat menggemari olahraga.

Selain untuk refreshing setelah lelah mengajar, olahraga ia gunakan sebagai kegiatan untuk kebugaran tubuh. Maklum, saja ustadz kelahiran 1 Maret 1994 ini memang tergabung dalam klub bola voly kampungnya.

Soal pengalaman organisasi, ustadz yang tinggal di Desa Bader Kecamatan Jatirogo ini adalah gudangnya. Ia sudah pernah terjun di berbagai organisasi, mulai dari OSIS, Dewan Ambalan, dan saat ini Saka Wirakartika. Ia juga merupakan pembina OSIS MTs Ulumiyyah.

Satu hal yang saat ini dalam proses untuk diwujudkan adalah menjadi seorang entrepreneur  sejati. Menurut ustadz yang masih melajang ini, entrepreneur adalah profesi yang sangat mulia. Sebab, dari profesi tersebut akan muncul lapangan pekerjaan yang secara otomatis menyedot pekerja-pekerja lainnya.

“Alasan lainnya mengapa saya ingin menjadi entrepeneur adalah karena seorang entrepreneur sudah pasti akan sealu berpikir. Pikiran akan selalu hidup karena berusaha,” kata alumnus SMAN 1 Jatirogo ini.

Saat ini, jalan untuk merintis menjadi entrepreneur sejati sudah dilakukan. Selain mengajar, ia juga menjalankan usaha ternak kambing etawa di rumahnya. Tak tanggung-tanggung, sudah belasan kambing etawa yang saat ini menjadi tumpuannya mewujudkan cita-cita sebagai entrepreneur sejati.

Demi cita-citanya itu, Ustadz Dain sama sekali tidak merasa malu harus mencari rumput untuk pakan kambing etawa miliknya. Semau itu ia lakukan setelah ia menyelesaikan tanggungjawabnya mengajar di MTs Ulumiyyah.

“Saya senang mengajar di MTs Ulumiyyah, karena merasa semakin dekat dengan agama. Jadi, tidak masalah jika setelah mengajar harus mencari pakan ternak. Itu sudah bagian dari proses mewujudkan cita-cita,” pungkasnya. (Alfina/Ida-MTs/Red)

"Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari"

(http://poskotanews.com/)

Al-Ittihad – Pada dasarnya guru tidak hanya berperan sebagai seorang pengajar saja. Guru seharusnya juga berperan sebagai orang tua bagi anak didiknya. Ya, menjadi pembimbing bagi anak didiknya sehingga menghasilkan generasi penerus yang berguna bagi agama, negara, dan bangsa.

Menjadikan anak didik sebagai pribadi yang berakhlakul karimah, sopan, teladan dan pandai adalah dambaan setiap guru. Sosok guru selalu mendambakan agar anak didiknya menjadi kebanggaan bangsa. Selain dengan usaha dan kerja keras, tak sedikit guru yang juga melantunkan segala doa untuk kesuksesan anak didiknya.

Sebagai golongan pelajar yang baik, tentunya harus selalu memiliki jiwa semangat dalam menjalankan perintah dan taat kepada guru. Dari sini semua itu, pelajar akan mendapatkan manfaat dari apa yang diajarkan oleh seorang guru.

Di satu sisi, saat ini juga dibutuhkan langkah komprehensif untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas, profesional dan proporsional bagi semua pihak. Harus ada usaha bersama dalam merumuskan konsep dan pelaksanaan aturan agar menghasilkan pendidikan yang diharapkan.

Ada baiknya, seorang guru bukan hanya memaksakan anak didiknya untuk melakukan hal yang menurutnya baik. Lebih dari itu, jika perlu seorang guru harus mampu terlebih dahulu memberikan contoh atas apa yang harus dilakukan oleh seorang anak didik. Sehingga, tidak ada istilah, ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Menanggapi hal itu, KH. Abdul Manaf, salah seorang sesepuh Ponpes Nahdlatut Tholibin al-Islamiyyin (NTI) Kebonharjo mengatakan, seorang guru yang ideal tentunya mengajarkan kebaikan kepada anak didiknya, baik melalui teori maupun tauladan.

“Bahwa guru yang ideal harus bisa menjadi contoh dalam segala hal untuk anak didiknya. Guru tidak hanya berbicara namun juga mencontohkannya dalam perbuatan,” ungkap Kyai Manap.

Namun begitu menurut Kyai Manap, adanya pelajar yang taat atau melanggar aturan lebih banyak pada faktor pribadi. Kecil kemungkinan hal itu terjadi lantaran adanya faktor dari pihak lembaga pendidikan. Sebab, responsibilitas terhadap aturan yang berlaku tergantung kepada pribadi masing-masing.

“Taat tidaknya siswa terhadap suatu aturan bergantung pada diri masing-masing. Seperti halnya siswa yang belum memiliki kesadaran terhadap proses pendidikan akan mudah terpengaruh, baik karena faktor eksternal maupun faktor internal,” terang pengajar yang terkenal dengan ilmu fiqhnya itu.

Ia mengingatkan, bahwa kesempurnaan hanya murni milik Allah. Sehingga kesalahan dapat diperbuat oleh siapa pun, termasuk oleh seorang guru. Terkadang kesalahan seorang guru sebagai manusia kerap dijadikan oleh sejumlah pelajar untuk menjadi pembenaran melakukan pelanggaran aturan.

Sementara itu seorang pengajar MA Unggulan Ulumiyyah Kebonharjo, Ustadz Ahmad Yusron mengungkapkan, sudah seharusnya guru harus mampu memberikan pembelajaran yang bijak kepada siswanya. Guru harus memberikan contoh yang baik dalam hal sekecil apa pun, termasuk soal kedisiplinan waktu.

“Guru harus dapat memberikan pengarahan kepada siswa. Pendampingan dan motivasi dari dewan asatidz ini penting agar siswa tidak terlena dengan hal-hal negatif yang bebas beredar di lingkungan mereka,” jelas Ustad Yusron. (Afifah-Masithoh-MA/Red)

Senin, 21 November 2016

Kesabaran yang Berbuah Indah

(pelajarislam.com)

Oleh : Sintya, S. Pd *)

Ini kisahku, namaku Dina. Aku adalah anak satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Aku terahir dari keluarga yang amat sederhana. Ayahku bekerja sebagai kuli bangunan yang menenap, dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Walaupum penuh dengan kesederhanaan, kami hidup dengan bahagia. Aku menjalani hidup layaknya seperti anak remaja lainnya, aku sungguh bahagia dengan hidupku.

Namun kejadian 2 bulan yang lalu telah benar-benar merubah hidupku. Dokter memvonis ayahku akan mengalami kelumpuhan permanen. Aku memutar otak apa yang harus aku lakukan dengan ijazah madarah aliyyah ini. Ingin lanjut ke kuliah tapi tidak ada biaya. Hingga tiba pada suatu malam, yang kala itu adalah hari ulang tahunku yang ke 18 tahun. Harusnya aku bahagia tapi tidak untuk detik ini. Aku berfikir seolah-olah hidup tidak adil lagi bagiku.

Tepat pukul 24.00 ponselku  berbunyi, ada SMS masuk “Selamat ulang tahun” belasan SMS nasuk baik dari teman maupun keluarga. Dengan ditemani kesunyian malam, aku menata tekad ini. Aku akan tetap melangkah meskipun dalam kesulitan.

******

Mentari bersinar cerah, secerah hatiku yang kini sedikit lebih baik dari kemarin. Aku memutuskan untuk malanjutkan kuliah dan ini adalah hari pertamaku. Meskipun perekonomian keluarga sudah tidak seperti dulu lagi, ayah tetap memprioritaskan pendidikan menjadi yang nomor satu. Aku berusaha menbagi waktu antara kuliah dan bekerja. Selain untuk biaya kuliahku sendiri juga untuk membantu ibu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, saat ini ibuku juga bekerja menjadi tukang cuci. Di kampus aku memiliki seorang sahabat dekat, sejak SMA kami selalu bersama-sama. Dia selalu ada, baik diwaktu senang maupun susah. Indah, itulah panggilan akrabnya.

Tidak pernah terbayangkan jika hidupku akan menjadi begin, dulu aku amat dimanja. Namun kini jika aku menginginkan sesuatu aku harus bekerja terlebih dahulu. Aku berusaaha tegar menjalani kehidupan ini. Satu tahun berjalan, aku mulai terbiasa menjalani kehidupan semacam ini. Pagi kuliah dan malamnya bekerja di apotek. Hasilnya sudah lebih dari cukup untuk biaya ku,iahku dan membantu pengobatan ayah.

Namun badai kembali menggoyahkan keteguhan dan kesabaranku. Ibu pergi meninggalkan aku dan ayah. Kini aku hidup bersama ayah yang sangat menyayangiku dan kenangan seorang ibu yang meninggalkanku tanpa alasan apa pun. Tapi sedikit pun aku tidak pernah membencinya, karena di telapak kakinya surgaku.

Aku merubah ulang jadwal keseharianku. Selain kuliah dan bekerja, aku juga harus merawat serta menyiapkan keperluan ayah.
Ayah : “Nak, kamu sudah punya uang untuk bayar semester? Katanya besok kmu ujian,”.
Dina : “Belum ada yah,”.
Ayah : “Untuk meringankan biaya, jual saja apa yang ada di rumah ini agar kamu bisa ikut ujian,”.

Seolah-olah pikiranku jauh melayang, memikirkan barang apa yang harus aku jual. Tanpa sadar hingga malam pun tiba, mata ini sulit untuk terpejam. Rasa marah, benci, dan dengki bercampur jadi satu. Aku memutuskan untuk tidak menjual barang apa pun dan aku putuskan untuk tetap berangkat ujian dengan santai  dan melihat apa yang akan terjadi nanti.

Pagi pun tiba aku bergegas berangkat dan menuju ruangan lantai dua, saatnya ujian dimulai. Tiba-tiba terdengar suara keras yang membuat kaget semua penghuni ruangan itu. “Barang siapa yang belum membayar uang semester, dimohon keluar sekarang juga”.

Tanpa pikir panjang, seketika itu juga aku keluar dengan menitikkan air mata dan melangkah menuju taman yang ada di kampus. Suasana sepi dan hening membuat pikirannku tak karuan. Aku merasa tak berdaya, sedang mahasiswa lain terfokus pada ujiannya.

Tanpa aku sadari seorang laki-laki yang tak aku kenal menghampiriku, entah malaikat atau manusia yang berhati malaikat.
Laki-laki : “Nak, kenapa kamu menangis dan mengapa tidak ikut ujian?”.
Dina : “Aku belum bayar semester jadi tidak boleh mengikuti ujian,”.
Lali-laki : “Memangnya berapa yang kamu butuhkan nak?”
Dina : “Rp 600 ribu pak,”.
Laki-laki : “Tunggu di sini sebentar,”.

Laki-laki tidak kukenal tersebut masuk ke mesin ATM yang berada disamping kampus. Kemudian beliau menhampiriku kembali dan menyerahkan uang sebesar Rp 1,8 juta. Bahkan beliau tidak bertanya nama, alamat, aku pun tidak mengetahui namanya. Setelah aku mengucapkan terima kasih beliau langsung pergi.

Kini aku menyadari, ternyata masih banyak orang yang menyayangiku. Bahkan orang tersebut mungkin hanya satu dari seribu manusia yang berhati malaikat.

*****

Empat tahun berlalu, aku gunakan uang tersebut hingga menjadi perantara keberhasilanku menjalani perjalanan hidup yang panjang. Akhirnya selain sukses menyandang (S1) Sarjana Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, aku juga sukses menjadi pengusaha roti. Saat itu, aku gunakan uang sisa membayar SPP dari pemberian laki-laki yang tidak aku kenal kemarin sebagi modal berbisnis roti. Sekarang aku sadar, bahwa sebagai manusia hanya bisa berencana. Hanya Allah SWT yang menentukan. Dengan semangat kerja keras, selalu berusaha, sabar, semua akan dapat tercapai.

*) Alumnus Unirow Tuban dan pengajar Bahasa Indonesia di MA Unggulan Ulumiyyah Kebonharjo.


Sabtu, 19 November 2016

Berhenti Merokok atau ‘Istiqomah’ Merokok

(Majalah Al-Ittihad)

Al-Ittihad – Rokok dan merokok menjadi bahasan yang selalu hangat walaupun sudah kerap diperbincangkan oleh masyarakat luas. Ada apa sesungguhnya dengan rokok atau merokok? Merokok memang menjadi kebiasaan oleh sebagian masyarakat. Ketika kebiasaan itu menjadi topik bahasan, entu saja akan muncul banyak pendapat dan pernyataan.

 Dalam dunia pemasaran barang, rokok menjadi produk yang menduduki peringkat pertama dalam memberikan slogan kejujuran. Mulai dari slogan ringan hingga slogan berat, seperti “Rokok menyebaban penyakit” hingga “Rokok membunuhmu”, terdengar nyaring di telinga masyarakat luas.

Sebagian masyarakat cuek atas adanya slogan-slogan yang terkesan menakut-nakuti itu. Sebagian yang lain, dan mungkin jumlahnya kecil, mengikuti slogan tersebut dengan berhenti atau setidaknya mengurangi intensitas dalam merokok.

Seorang dokter utama di Puskesmas Sale Rembang, dr. M. Anton menjelaskan, mengapa slogan tentang bahaya merokok ini dimunculkan. Menurutnya, tujuan dari slogan yang hampir selalu ada di bungkus rokok itu adalah untuk memeberikan pendidikan dengan didasari pertimbangan.

Perlu dicermati rokok tidak secara langsung bisa membunuh sebagaimana tertera dalam slogan yang ada di setiap bungkusnya. Namun, secara medis merokok memang memberikan resiko cukup besar terkena berbagai penyakit.

Hal itu karena zat-zat yang terkandung dalam rokok bisa menyebabkan berbagai penyakit kronis, seperti kanker paru, kanker mulut, kanker hidung dan lainnya. Penyakit-penyakit itu lah yang secara medis ditengarai bisa menjadi perantara seseorang kehilangan nyawa.

“Rokok mengandung ribuan senyawa Pb, yaitu senyawa yang dapat menyebabkan kanker. Berdasarkan riset, kanker termasuk dalam salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia,” terang dokter berkaca-mata ini.

Berhenti merokok atau ‘istiqomah’ merokok, ungkapan seperti itu pada akhirnya kerap muncul di kalangan para perokok. Tentu saja masing-masing memiliki pendapat pribadi bergantung sudut pandangnya sendiri.

KH Fatchurrohman, pengasuh Ponpes Nahdlatut Tholibin Al-Islamiyyin (NTI) mengungkapkan, sejauh ini belum ada dasar khusus yang mengarah pada hukum merokok. Selama ini hukum rokok masih sering menjadi perdebatan.

“Prespektif rokok tergantung si perokok itu sendiri. Jika si perokok mendapat kemaslahatan (kebaikan) dari merokok maka rokok diperbolehkan, misalnya jika tidak merokok tidak dapat berpikir, merasa pusing atau sakit. Begitu pula sebaliknya,  jika si perokok mendapat kemadharatan (keburukan) dari merokok maka rokok menjadi haram, misalnya jika merokok akan bertambah sakit, dan sebagainya,” jelas KH Fatchurahman.

Dari kenyataan yang ada itu, bisa saja kita berpijak pada salah satu dasar yang digunakan sebagai rujukan sebagian ulama dalam menentukan hukum fiqih yaitu kaidah “jalbu masholih wa dar’u mafasid” atau mengambil kemaslahatan dan membuang kemadharatan. Tentu saja hal itu harus sesuai dengan konteks yang umum.

Selama ini, kendala orang yang sudah pernah merokok memang sulit untuk berhenti dan berpaling dari rokok. Dalam tembakau yang notabene menjadi bahan baku utama pembuatan rokok terdapat kandungan nikotin yang menyebabkan ketergantungan. Hal ini yang menyebabkan kebanyakan perokok susah berhenti dari kebangsaan merokok.

Mengubah kebiasaan memang susah. Namun dengan diawali kesadaran diri sendiri dan i’tikad baik untuk berubah akan membantu para perokok yang ingin berhenti dari aktivitas merokok. (Widya-/Red-MA)