Sabtu, 10 Desember 2016

Mahasiswa Al-Anwar Gandeng Dinas Pertanian Ajari Petani Tanggulangi Hama

POSE BERSAMA : Seluruh panitia dan nara sumber dan sebagian peserta acara penyuluhan hama berpose bersama setelah acara selesai dilaksanakan.

Al-Ittihad – Mahasiswa KKN STAI Al-Anwar Sarang, menggelar seminar pertanian yang bertajuk ‘Cara Mengatasi Permasalah Hama Pertanian, Rabu (7/12) lalu. Acara yang bertempat di Gedung Panti PKK Kebonharjo itu diikuti oleh puluhan petani desa setempat.

Dalam seminar tersebut hadir tim ahli Organisme Penganggu Tanaman (OPT) dari Dinas Pertanian Kabupaten Tuban yang dikoordinatori oleh Maman. Kepada petani ia mengungkapkan, pertanian awal mulanya mempunyai agroekosistem yang seimbang.

Tetapi kian lama agroekosistem ini menjadi tidak seimbang, karena para petani terlalu banyak meracuni tanah dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Bahan kimia itu yang selama ini kerap dijadikan pilihan utama dalam menyuburkan tanaman.

“Bahan kimia memang menjadi andalan utama para petani mulai dulu sampai sekarang, Karena lebih efektif dan praktis. Tapi karena terlalu banyak menggunakan bahan kimia dalam pemupukan dan pembasmian hama,” jelas dia.

Dari kondisi itu, para petani mengalami banyak dampak negatif. Beberapa dampak negatif yang dirasakan adalah mulai rusaknya lapisan tanah, serta tanaman menjadi mudah terkena hama.

Dalam seminar tersebut Dinas Pertanian Kabupaten Tuban tidak hanya memberikan pengetahuan tentang cara mengatasi hama. Petani juga diberikan pemahaman tentang pemilihan obat yang tepat untuk membasmi hama.

Seminar menjadi lebih menarik lantaran petani yang hadir dalam acara tersebut memberikan respons dengan melontarkan sejumlah pertanyaan kepada nara sumber. “Acara seperti ini sangat berguna bagi warga Kebonharjo, khusunya petani agar dapat mengetahui cara-cara yang benar dalam mengatasi masalah pertanian,” imbuh seorang penyuluh pertanian Desa Kebonharjo, Dawam. (Red)

Minggu, 04 Desember 2016

Antara Pesantren Salaf, Modern dan Globalisasi

POSE KEAKRABAN : Ketua STAI Al-Anwar Sarang, KH Dr Abdul Ghofur Maimun berpose penuh keakraban dengan dua wartawan Al-Ittihad, setelah seusai wawancara, Minggu, 4 Desember 2016. (Al-Ittihad)
Belakangan, banyak pesantren yang mendirikan lembaga pendidikan formal, semisal MI, MTs atau MA untuk santri mereka. Lembaga formal tersebut sengaja didirikan untuk memfasilitasi kebutuhan pendidikan di bidang umum para santri. Sebab, pada kenyataannya banyak pesantren yang kehilangan santrinya lantaran tidak memiliki lembaga formal di dalamnya.

Hal itu sedikit banyak merubah model pembelajaran yang terjadi di dalam pesantren, termasuk pesantren salaf. Bagaimana sebenarnya kira-kira gambaran pesanten yang ideal di era kini. Berikut perbincangan wartawan Majalah Al-Ittihad, Abdul Matin dan Achmad Makruf dengan Ketua STAI Al-Anwar Sarang sekaligus putra KH Maimun Zubaer, KH Dr Abdul Ghofur Maimun, Minggu 4 Desember 2016.

Al-Ittihad : Bagaimana gambaran mengenai pesantren ideal masa kini?
Gus Ghofur : Pesantren itu yang penting ada yang namanya transfer spiritual, setelah itu ada transfer ilmu. Ada juga beberapa komponen lainnya yaitu kyai, asrama, masjid, lalu ada pembelajaran tentang ilmu kepesantrenan. Kalau mau yang ideal semua itu harus ideal, kyainya harus ideal, pembelajarannya, suasana pondoknya juga harus ideal. Itu yang harus ada di pondok dan tidak bisa dihilangkan. Setelah itu baru kita bicara mengenai apa yang dibutuhkan masyarakat, yaitu sumber pendidikan itu harus ada di pesantren. Apa yang dibutuhkan masyarakat itu yang dipenuhi misal tentang pertanian, pemerintahan, ya harus dipenuhi lalu diolah dalam sistem pesantren. Kalau semua itu tidak ada, namanya bukan pondok pesantren tapi asrama.
Al-Ittihad : Kyai harus ideal, pembelajaran harus ideal, kondisi bagaimana yang disebut ideal?
Gus Ghofur : Gini, orang menjadi itu baik bukan karena dia baik. Orang baik itu karena suasananya baik, maka dia menjadi baik. Dulu itu gampang, sekali kalau orang tidak mau melakukan shalat, ingin shalat gampang sekali, masukkan di pondok pesantren maka ia dengan sendirinya akan sholat. Bukan karena ia suka sholat, tetapi karena lingkungannya mengajaknya sholat. Saya pingin punya anak yang bisa ngaji, ya sudah letakan saja pada lingkungan ngaji, maka dengan sendirinya dia akan ngaji. Pesantren harus menciptakan orang baik, dikelola yang baik maka situasinya akan menjadi ideal. Kalau nggak diopeni santrinya dibiarkan tidak diperhatikan maka itu namanya nggak pondok pesantren ideal. Punya kyai yang ideal ya komponen-komponen itu diidealkan. Kyai yang ideal itu kyai yang dipandang baik oleh santri. Kira-kira kyainya ya harus begitu, harus bisa menampilkan apa yang mejadi cita-cita pondok pesantren. Pesantren menginginkan santrinya beribadah dengan rajin, ya kyainya harus beribadah dengan rajin. Fokusnya itu di kyai. Setiap hari yang dilihat oleh santri itu ya kyainya. Sehingga, dalam santri tidak ada yang disebut mantan santri, itu karena sudah tersedot oleh spiritualnya kyai.
Al-Ittihad : Saat ini banyak istilah-istilah yang muncul mengenai pesantren, seperti pesantren salaf, pesantren modern atau pesantren semimodern. Lalu Apa perbedaan antara pondok salaf dan modern gus?
Gus Ghofur : Yang penting itu sepiritualnya dulu, lalu setelah itu dijaga agar semuanya baik. Maka perbedaan-perbedaan itu akan tidak ada lagi karena spiritnya pondok pesantren sudah ada. Sistem yang menjadi pembeda salaf itu pendidikannya tradisional, karena mengkhususkan diri untuk pendidikan pada ilmu agama, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena pada kenyataannya pendidikan modern terlalu banyak kurikulum yang mengikuti Kemenag dan macem-macem. Namanya kan menjadi tidak jelas dan tidak fokus. Karena yang satunya mengonsentrasikan pada kitab-kitab kuning yang seperti ini. Hubungan antara murid dengan kyai pada pesantren salaf memang benar-benar terjalin dengan spiritual. Kalau disebut modern tetapi masih menjaga tradisi-tradisi salaf, maka bisa disebut salaf meski tampak modern. Yang penting spiritualnya saja dijaga, tidak hanya sekedar transfer ilmu saja.
Al-Itihad : Untuk menghadapi tantangan globalisasi, kira-kira lebih efektif mana peran di antara keduanya, salaf atau modern?
Gus Ghofur : Itu tidak peran. Globalisasi itu artinya dunia menjadi menyempit antara yang baik dan yang jelek menjadi dekat. Kalau dulu orang bisa dibatasi oleh sesuatu hal sehingga orang hanya bisa mengenal lingkungan yang baik atau yang jelek. Karena sekarang ini dunia menyempit, semuanya mendekat. Dalam satu waktu orang itu dekat dengan kebaikan sekaligus dekat dengan kejelekan. Dulu kalau orang diletakan di pondok pesantren dekat dengan dengan kebaikan dan jauh dengan kejelekan. Kalau sekarang ini meski di pondok tapi keimananya tidak kuat maka juga akan melakukan kejelekan. Karena semua itu mendekat. Batas-batas itu menjadi susah. Globalisasi juga berarti yang modern mendekat ke salaf yang salaf mendekat ke modern. Orang membuka google sekaligus ia dekat dengan kebaikan dan kejelekan. Orang punya televisi juga sama membuka jendela kebaikan dan keburukan, semua ada kebaikan dan kejelekan. Namanya globalisasi, terkadang orang yang belajar di pesantren modern menjadi pengasuh di pesantren salaf, begitu juga sebaliknya. Sejatinya batas itu berada pada dalam diri masing-masing. Mana yang efektif? semua efektif. Punya tugas masing-masing. Yang penting ya itu tadi, terus dijaga spiritualitasnya, kebutuhan masyarakat itu apa, dipenuhi.
Al-Ittihad : Sebagian kalangan pesantren masih menganggap bahwa santri itu tidak boleh mengakses produk perkembangan zaman, seperti tablet atau internet, sehingga dibilang katrok. Sejatinya, boleh tidak santri dikenalkan produk perkembangan zaman itu?
Gus Ghofur : Semakin canggih barang yang kita miliki, maka godaannya akan semakin tinggi. Maka kita jangan menggunakan yang canggih-canggih kalau mentalnya tidak kuat. Sepeda motor jika kapasitas mesinnya semakin tinggi, maka keinginan untuk ngebut juga semakin tinggi. Kalau belum bisa mengendalikannya, sebaiknya jangan pakai itu. Gunakan yang sesuai dengan kebutuhan. Kalau dia sudah mampu untuk mengendalikan diri, mau pakai ya tidak masalah. Ini bukan katrok, karena tidak disarankan untuk santri membawa ponsel yang canggih-canggih. Google itu bisa membuka apa saja. Jadi perlu adanya pengawasan. Kalau disebut katrok ya tidak masalah. Kalau katrok itu dalam arti negatif baru masalah. Tapi kalau itu katrok dalam arti posisif tidak masalah.
Al-Ittihad : Apakah pesantren perlu menyesuaikan kurikulum milik pemerintah atau membuatnya sendiri sesuai kebutuhan?
Gus Ghofur : Sebenarnya pondok tidak mewajibkan untuk menggunakan buku-buku yang dibuat pemerintah, hanya beberapa saja. Kalau bisa menciptakan (kurikulum) sendiri sesuai dengan yang dibutuhkan, saya kira itu lebih baik karena kebutuhannya bebeda. Sudah disindir berkali-kali soal itu, kurikulum itu tidak bisa disamakan. Kurikulum kok sama dengan yang di bawah (desa). Gurunya saja berbeda, muridnya bebeda, kepentingannya berbeda kok bisa sama itu bagaimana. Ya kalau sama tidak masalah, tapi harus ada modifikasi-modifikasi sedikit. Tidak bisa disamakan antara yang paling atas sampai yang paling bawah. Itu tidak adil sekali. Orang Jatirogo kok yang bikin kurikulum orang Jakarta. Itu tidak salah sekolah tapi salah pemerintah. Kalau mau menyeragamkan kurikulum maka gurunya harus seragam, kemampuan murid juga harus seragam. Kebutuhan santri salaf dengan modern juga bebeda. Kalau salaf mempelajari kitab kuning, tidak ilmu fisika, kimia dan lainnya. Yang penting kebutuhannya apa disesuaikan, tujuannya apa disesuaikan. Jangan pernah dihilangkan tentang spiritualnya. Takdzim pada guru, ngaji, bersilaturahmi dan hal-hal yang menjadi pokok dalam pesantren jangan sampai dihilangkan. Jangan menciptakan keseragaman, dunia ini tidak bisa diseragamkan.
Al-Ittihad : Perlukah pondok pesantren mendirikan universitas?
Gus Ghofur : Universitas itu salah satu kebutuhan masyarakat. Kalau memang pesantren mampu melaksanakan itu atau mampu mensuport universitasnya, mendirikan ya tidak apa-apa. (Tin/Ruf-Red)

Sabtu, 03 Desember 2016

Ulumiyyah Gandeng UWKS Terapkan K-13

PELATIHAN K-13, Pembukaan pelatihan Kurikulum 2013 (K-13) dengan pembicara tim dari UWKS di  Ulumiyyah (Al-Ittihad)

Al-Ittihad, edisi 5 – Yayasan Ponpes Al-Barmawy menggandeng Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) dalam penerapan Kurikumum 2013 (K-13). salah satu wujudnya adalah menggelar pelatihan bagi pengajar di MTs dan MA Unggulan Ulumiyyah. Pelatihan digelar dua kali, Mei 2016 dan yang terakhir 3 Desember 2016 bertempat di aula MTs dan MA Unggulan Ulumiyyah.

Dalam dua kali pelatihan tersebut, diajarkan bagaimana menerapkan konsep K-13 dalam dunia pembelajaran. Pada latihan pertama, kalangan pengajar Ulumiyyah diajari berbagai hal terkait K-13, semisal pembuatan RPP, silabus serta metode pembelajaran.

Sedangkan pada pelatihan yang terakhir pada Desember 2016, kalangan pengajar Ulumiyyah dibekali bagaimana melakukan evaluasi pembelajaran. Guru juga dilatih untuk memberikan penilaian seobyektif mungkin berdasarkan K-13.

Kepala MTs Ulumiyyah, Dr H Kaswadi, M. Hum yang juga merupakan pengajar di UWKS mengatakan, pelatihan penerapan K-13 merupakan hal penting bagi setiap madrasah atau sekolah. Sebab, kurikulum ini merupakan pilihan yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah.

Menurutnya, pemahaman pengajar mengenai kurikulum harus selalu terupdate sesuai dengan kondisi di lapangan. Sehingga, saat melaksanakan pembelajara di kelas guru akan mampu menciptakan sesuatu yang baru dan menyenangkan bagi peserta didiknya.

“Ibarat berjualan, guru itu harus kulakan setiap hal yang baru. Sehingga yang dijual juga akan selalu baru. Pelatihan seperti ini ibaratnya adalah kulakan guru. Dengan mengkikuti pelatihan, maka saat mengajar atau mempraktikan ilmu di madrasah guru akan selalu menawarkan hal yang baru,” jelasnya.

Dekan Fakultas Bahasan dan Sains UWKS Dr Fransiska Dewi saat menyampaikan materi mengatakan, dalam pelaksanaan K-13 penilaian oleh guru tidak bisa dilakukan di akhir pembelajaran saja.

“Penilaian terhadap peserta didik harus dilakukan menyeluruh. Bukan hanya di akhir pembelajaran saja, tapi juga harus melihat proses peseta didik mulai awal dan pertengahan pembelajaran,” terang dia.

Ia juga menyampaikan, pembelajaran K-13 di era modern seperti saat ini guru juga harus mampu secara bijak mengembangkan potensinya. Sebab, di era yang serba digital banyak siswa yang memiliki daya kritis sehingga sudah banyak mengetahui materi sebelum diajarkan oleh gurunya.

“Jika guru tidak ikut mengupdate materi tersebut bisa saja dalam kelas mereka berpotensi tertinggal pengetahuan dari muridnya sendiri,” ujarnya.

Dalam pelatihan yang digelar selama setengah hari itu mayoritas pengajar di MTs dan MA Unggulan Ulumiyyah hadir. Hanya sebagian kecil yang tidak bisa mengikutinya karena berbagai alasan.

“Pelatihan ini penting dan bagus untuk pengembangan kurikulum di madrasah yang baru berkembang. Apalagi pematerinya adalah orang-orang yang memang memiliki keahlian di bidang itu,” kata seorang peserta dari MA Unggulan Ulumiyyah, Ustadz Suyatno. (Red)

Sabtu, 26 November 2016

Lima Landasan Kepemimpinan Amanah

Oleh: Novita Sari *)

Setiap insan pastinya memiliki prinsip hidup yang berbeda- beda untuk menggapai hal yang diinginkannya. Dalam kehidupan ini, banyak orang yang tanpa sadar telah menjadi seorang pemimpin. Pemimpin tidak harus mereka yang menempati jabatan Presiden, Bupati, atau pun Gubernur. Contoh kecil yang dapat kita saksikan antara lain, pemimpin dalam organisasi sekolah, pemimpin dalam sebuah perkantoran,dan masih banyak lagi.

Namun menjadi seorang pemimpin tidak semudah seperti yang dipikirkan. Menjadi pemimpin haru memiliki bekal. Berikut beberapa hal yang bisa menjadi bekal bagi seseorang agar bisa menjadi pemimpin yang amanah.
.                  
Pertama, berani dan teguh hatinya. Seorang pemimpin harus berani bertindak dan mengambil keputusan dengan benar dan bijaksana. Juga harus teguh hatinya, jangan mudah berputus asa atau menyerah untuk menggapai tujuan.

Kedua, tidak egois.  Jika seorang pemimpin bersikap egois, maka akan berantakan apapun yang dipimpinnya. Karena sikap keegoisan pemimpin akan membuat anggota dan masyarakat di bawahnya merasa tidak nyaman. Bisa jadi seorang pemimpin hanya memikirkan dirinya sendiri, seolah tidak memerlukan anggota dan masyarakat.

Ketiga, rela berkorban dan mengayomi. Seorang pemimpin harus memiliki hal ini pada dirinya. Ia harus rela berkorban baik kekuatan atau pun hartanya untuk rakyat serta anggotanya. Dan ia harus mampu mengayomi masyarakatnya. Membuat masyarakat merasa damai, tentram, dan nyaman dibawah pimpinannya.

Keempat, bertanggung jawab. Pemimpin yang baik adalah seseorang yang bertanggungjawab atas apa yang telah diputuskan, yang telah diucapkan dan hal apa pun yang telah dipertimbangkan untuk dilakukan.

Kelima, adil. Sikap adil seorang pemimpin pastinya dibutuhkan oleh anggota dan masyarakat yang dipimpinnya.  Pemimpin harus bersikap adil dalam mengemban tugasnya, serta tidak membeda–bedakan masyarakat dan anggotanya. Sehingga tidak ada rasa pilih kasih baik anggota ataupun masyarakat.

Mungkin lima hal tersebut tidak sepenuhnya menjadi landasan untuk seseorang menjadi pemimpin. Yang pasti seorang pemimpin harus memiliki budi pekerti yang luhur dan sikap saling menyayangi serta menghargai sesama.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa,  siapa pun itu bisa menjadi seorang pemimpin, tetapi dengan menganut aturan–aturan yang telah ada dan tetap mengedepankan sikap tangung jawab dalam mengemban setiap tugas.

Novita Sari (Al-Ittihad)
Dari hal ini semoga kita bisa menjadi seorang pemimpin, meskipun tidak untuk semua orang tetapi pemimpin untuk memimpin langkah menuju jalan yang lurus dan di ridhoi oleh Allah SWT.    

*) Siswa kelas XII MA Unggulan Ulumiyyah Kebonharjo.                                                                             

Rabu, 23 November 2016

Rintis Jalan Entrepreneur, Tak Segan Cari Rumput Setelah Mengajar

Ustadz Da'in Munthoha


Al-Ittihad – Sekilas dari mimic wajahnya, ustadz yang satu ini terlihat pemarah. Namun anggapan itu salah. Ternyata ustadz yang terkenal kedisiplinannya itu bersifat humoris dan baik hati.

Hal itu terlihat pada saat ia menghukum siswa bermasalah. Hukuman yang ia berikan itu tidak pernah mencerminkan kekerasan. Paling banter, siswa yang bermasalah dengan aturan hanya diminta untuk membersihkan area sekolah.

Ustadz itu bernama Da’in Muthoha S.E. Guru olahraga sekaligus pengajar IPS di MTs Ulumiyyah Kebonharjo ini adalah putra tunggal dari pasangan Bapak Warsidi dan Ibu Karsini. Ia sangat menggemari olahraga.

Selain untuk refreshing setelah lelah mengajar, olahraga ia gunakan sebagai kegiatan untuk kebugaran tubuh. Maklum, saja ustadz kelahiran 1 Maret 1994 ini memang tergabung dalam klub bola voly kampungnya.

Soal pengalaman organisasi, ustadz yang tinggal di Desa Bader Kecamatan Jatirogo ini adalah gudangnya. Ia sudah pernah terjun di berbagai organisasi, mulai dari OSIS, Dewan Ambalan, dan saat ini Saka Wirakartika. Ia juga merupakan pembina OSIS MTs Ulumiyyah.

Satu hal yang saat ini dalam proses untuk diwujudkan adalah menjadi seorang entrepreneur  sejati. Menurut ustadz yang masih melajang ini, entrepreneur adalah profesi yang sangat mulia. Sebab, dari profesi tersebut akan muncul lapangan pekerjaan yang secara otomatis menyedot pekerja-pekerja lainnya.

“Alasan lainnya mengapa saya ingin menjadi entrepeneur adalah karena seorang entrepreneur sudah pasti akan sealu berpikir. Pikiran akan selalu hidup karena berusaha,” kata alumnus SMAN 1 Jatirogo ini.

Saat ini, jalan untuk merintis menjadi entrepreneur sejati sudah dilakukan. Selain mengajar, ia juga menjalankan usaha ternak kambing etawa di rumahnya. Tak tanggung-tanggung, sudah belasan kambing etawa yang saat ini menjadi tumpuannya mewujudkan cita-cita sebagai entrepreneur sejati.

Demi cita-citanya itu, Ustadz Dain sama sekali tidak merasa malu harus mencari rumput untuk pakan kambing etawa miliknya. Semau itu ia lakukan setelah ia menyelesaikan tanggungjawabnya mengajar di MTs Ulumiyyah.

“Saya senang mengajar di MTs Ulumiyyah, karena merasa semakin dekat dengan agama. Jadi, tidak masalah jika setelah mengajar harus mencari pakan ternak. Itu sudah bagian dari proses mewujudkan cita-cita,” pungkasnya. (Alfina/Ida-MTs/Red)

"Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari"

(http://poskotanews.com/)

Al-Ittihad – Pada dasarnya guru tidak hanya berperan sebagai seorang pengajar saja. Guru seharusnya juga berperan sebagai orang tua bagi anak didiknya. Ya, menjadi pembimbing bagi anak didiknya sehingga menghasilkan generasi penerus yang berguna bagi agama, negara, dan bangsa.

Menjadikan anak didik sebagai pribadi yang berakhlakul karimah, sopan, teladan dan pandai adalah dambaan setiap guru. Sosok guru selalu mendambakan agar anak didiknya menjadi kebanggaan bangsa. Selain dengan usaha dan kerja keras, tak sedikit guru yang juga melantunkan segala doa untuk kesuksesan anak didiknya.

Sebagai golongan pelajar yang baik, tentunya harus selalu memiliki jiwa semangat dalam menjalankan perintah dan taat kepada guru. Dari sini semua itu, pelajar akan mendapatkan manfaat dari apa yang diajarkan oleh seorang guru.

Di satu sisi, saat ini juga dibutuhkan langkah komprehensif untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas, profesional dan proporsional bagi semua pihak. Harus ada usaha bersama dalam merumuskan konsep dan pelaksanaan aturan agar menghasilkan pendidikan yang diharapkan.

Ada baiknya, seorang guru bukan hanya memaksakan anak didiknya untuk melakukan hal yang menurutnya baik. Lebih dari itu, jika perlu seorang guru harus mampu terlebih dahulu memberikan contoh atas apa yang harus dilakukan oleh seorang anak didik. Sehingga, tidak ada istilah, ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Menanggapi hal itu, KH. Abdul Manaf, salah seorang sesepuh Ponpes Nahdlatut Tholibin al-Islamiyyin (NTI) Kebonharjo mengatakan, seorang guru yang ideal tentunya mengajarkan kebaikan kepada anak didiknya, baik melalui teori maupun tauladan.

“Bahwa guru yang ideal harus bisa menjadi contoh dalam segala hal untuk anak didiknya. Guru tidak hanya berbicara namun juga mencontohkannya dalam perbuatan,” ungkap Kyai Manap.

Namun begitu menurut Kyai Manap, adanya pelajar yang taat atau melanggar aturan lebih banyak pada faktor pribadi. Kecil kemungkinan hal itu terjadi lantaran adanya faktor dari pihak lembaga pendidikan. Sebab, responsibilitas terhadap aturan yang berlaku tergantung kepada pribadi masing-masing.

“Taat tidaknya siswa terhadap suatu aturan bergantung pada diri masing-masing. Seperti halnya siswa yang belum memiliki kesadaran terhadap proses pendidikan akan mudah terpengaruh, baik karena faktor eksternal maupun faktor internal,” terang pengajar yang terkenal dengan ilmu fiqhnya itu.

Ia mengingatkan, bahwa kesempurnaan hanya murni milik Allah. Sehingga kesalahan dapat diperbuat oleh siapa pun, termasuk oleh seorang guru. Terkadang kesalahan seorang guru sebagai manusia kerap dijadikan oleh sejumlah pelajar untuk menjadi pembenaran melakukan pelanggaran aturan.

Sementara itu seorang pengajar MA Unggulan Ulumiyyah Kebonharjo, Ustadz Ahmad Yusron mengungkapkan, sudah seharusnya guru harus mampu memberikan pembelajaran yang bijak kepada siswanya. Guru harus memberikan contoh yang baik dalam hal sekecil apa pun, termasuk soal kedisiplinan waktu.

“Guru harus dapat memberikan pengarahan kepada siswa. Pendampingan dan motivasi dari dewan asatidz ini penting agar siswa tidak terlena dengan hal-hal negatif yang bebas beredar di lingkungan mereka,” jelas Ustad Yusron. (Afifah-Masithoh-MA/Red)

Senin, 21 November 2016

Kesabaran yang Berbuah Indah

(pelajarislam.com)

Oleh : Sintya, S. Pd *)

Ini kisahku, namaku Dina. Aku adalah anak satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Aku terahir dari keluarga yang amat sederhana. Ayahku bekerja sebagai kuli bangunan yang menenap, dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Walaupum penuh dengan kesederhanaan, kami hidup dengan bahagia. Aku menjalani hidup layaknya seperti anak remaja lainnya, aku sungguh bahagia dengan hidupku.

Namun kejadian 2 bulan yang lalu telah benar-benar merubah hidupku. Dokter memvonis ayahku akan mengalami kelumpuhan permanen. Aku memutar otak apa yang harus aku lakukan dengan ijazah madarah aliyyah ini. Ingin lanjut ke kuliah tapi tidak ada biaya. Hingga tiba pada suatu malam, yang kala itu adalah hari ulang tahunku yang ke 18 tahun. Harusnya aku bahagia tapi tidak untuk detik ini. Aku berfikir seolah-olah hidup tidak adil lagi bagiku.

Tepat pukul 24.00 ponselku  berbunyi, ada SMS masuk “Selamat ulang tahun” belasan SMS nasuk baik dari teman maupun keluarga. Dengan ditemani kesunyian malam, aku menata tekad ini. Aku akan tetap melangkah meskipun dalam kesulitan.

******

Mentari bersinar cerah, secerah hatiku yang kini sedikit lebih baik dari kemarin. Aku memutuskan untuk malanjutkan kuliah dan ini adalah hari pertamaku. Meskipun perekonomian keluarga sudah tidak seperti dulu lagi, ayah tetap memprioritaskan pendidikan menjadi yang nomor satu. Aku berusaha menbagi waktu antara kuliah dan bekerja. Selain untuk biaya kuliahku sendiri juga untuk membantu ibu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, saat ini ibuku juga bekerja menjadi tukang cuci. Di kampus aku memiliki seorang sahabat dekat, sejak SMA kami selalu bersama-sama. Dia selalu ada, baik diwaktu senang maupun susah. Indah, itulah panggilan akrabnya.

Tidak pernah terbayangkan jika hidupku akan menjadi begin, dulu aku amat dimanja. Namun kini jika aku menginginkan sesuatu aku harus bekerja terlebih dahulu. Aku berusaaha tegar menjalani kehidupan ini. Satu tahun berjalan, aku mulai terbiasa menjalani kehidupan semacam ini. Pagi kuliah dan malamnya bekerja di apotek. Hasilnya sudah lebih dari cukup untuk biaya ku,iahku dan membantu pengobatan ayah.

Namun badai kembali menggoyahkan keteguhan dan kesabaranku. Ibu pergi meninggalkan aku dan ayah. Kini aku hidup bersama ayah yang sangat menyayangiku dan kenangan seorang ibu yang meninggalkanku tanpa alasan apa pun. Tapi sedikit pun aku tidak pernah membencinya, karena di telapak kakinya surgaku.

Aku merubah ulang jadwal keseharianku. Selain kuliah dan bekerja, aku juga harus merawat serta menyiapkan keperluan ayah.
Ayah : “Nak, kamu sudah punya uang untuk bayar semester? Katanya besok kmu ujian,”.
Dina : “Belum ada yah,”.
Ayah : “Untuk meringankan biaya, jual saja apa yang ada di rumah ini agar kamu bisa ikut ujian,”.

Seolah-olah pikiranku jauh melayang, memikirkan barang apa yang harus aku jual. Tanpa sadar hingga malam pun tiba, mata ini sulit untuk terpejam. Rasa marah, benci, dan dengki bercampur jadi satu. Aku memutuskan untuk tidak menjual barang apa pun dan aku putuskan untuk tetap berangkat ujian dengan santai  dan melihat apa yang akan terjadi nanti.

Pagi pun tiba aku bergegas berangkat dan menuju ruangan lantai dua, saatnya ujian dimulai. Tiba-tiba terdengar suara keras yang membuat kaget semua penghuni ruangan itu. “Barang siapa yang belum membayar uang semester, dimohon keluar sekarang juga”.

Tanpa pikir panjang, seketika itu juga aku keluar dengan menitikkan air mata dan melangkah menuju taman yang ada di kampus. Suasana sepi dan hening membuat pikirannku tak karuan. Aku merasa tak berdaya, sedang mahasiswa lain terfokus pada ujiannya.

Tanpa aku sadari seorang laki-laki yang tak aku kenal menghampiriku, entah malaikat atau manusia yang berhati malaikat.
Laki-laki : “Nak, kenapa kamu menangis dan mengapa tidak ikut ujian?”.
Dina : “Aku belum bayar semester jadi tidak boleh mengikuti ujian,”.
Lali-laki : “Memangnya berapa yang kamu butuhkan nak?”
Dina : “Rp 600 ribu pak,”.
Laki-laki : “Tunggu di sini sebentar,”.

Laki-laki tidak kukenal tersebut masuk ke mesin ATM yang berada disamping kampus. Kemudian beliau menhampiriku kembali dan menyerahkan uang sebesar Rp 1,8 juta. Bahkan beliau tidak bertanya nama, alamat, aku pun tidak mengetahui namanya. Setelah aku mengucapkan terima kasih beliau langsung pergi.

Kini aku menyadari, ternyata masih banyak orang yang menyayangiku. Bahkan orang tersebut mungkin hanya satu dari seribu manusia yang berhati malaikat.

*****

Empat tahun berlalu, aku gunakan uang tersebut hingga menjadi perantara keberhasilanku menjalani perjalanan hidup yang panjang. Akhirnya selain sukses menyandang (S1) Sarjana Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, aku juga sukses menjadi pengusaha roti. Saat itu, aku gunakan uang sisa membayar SPP dari pemberian laki-laki yang tidak aku kenal kemarin sebagi modal berbisnis roti. Sekarang aku sadar, bahwa sebagai manusia hanya bisa berencana. Hanya Allah SWT yang menentukan. Dengan semangat kerja keras, selalu berusaha, sabar, semua akan dapat tercapai.

*) Alumnus Unirow Tuban dan pengajar Bahasa Indonesia di MA Unggulan Ulumiyyah Kebonharjo.


Sabtu, 19 November 2016

Berhenti Merokok atau ‘Istiqomah’ Merokok

(Majalah Al-Ittihad)

Al-Ittihad – Rokok dan merokok menjadi bahasan yang selalu hangat walaupun sudah kerap diperbincangkan oleh masyarakat luas. Ada apa sesungguhnya dengan rokok atau merokok? Merokok memang menjadi kebiasaan oleh sebagian masyarakat. Ketika kebiasaan itu menjadi topik bahasan, entu saja akan muncul banyak pendapat dan pernyataan.

 Dalam dunia pemasaran barang, rokok menjadi produk yang menduduki peringkat pertama dalam memberikan slogan kejujuran. Mulai dari slogan ringan hingga slogan berat, seperti “Rokok menyebaban penyakit” hingga “Rokok membunuhmu”, terdengar nyaring di telinga masyarakat luas.

Sebagian masyarakat cuek atas adanya slogan-slogan yang terkesan menakut-nakuti itu. Sebagian yang lain, dan mungkin jumlahnya kecil, mengikuti slogan tersebut dengan berhenti atau setidaknya mengurangi intensitas dalam merokok.

Seorang dokter utama di Puskesmas Sale Rembang, dr. M. Anton menjelaskan, mengapa slogan tentang bahaya merokok ini dimunculkan. Menurutnya, tujuan dari slogan yang hampir selalu ada di bungkus rokok itu adalah untuk memeberikan pendidikan dengan didasari pertimbangan.

Perlu dicermati rokok tidak secara langsung bisa membunuh sebagaimana tertera dalam slogan yang ada di setiap bungkusnya. Namun, secara medis merokok memang memberikan resiko cukup besar terkena berbagai penyakit.

Hal itu karena zat-zat yang terkandung dalam rokok bisa menyebabkan berbagai penyakit kronis, seperti kanker paru, kanker mulut, kanker hidung dan lainnya. Penyakit-penyakit itu lah yang secara medis ditengarai bisa menjadi perantara seseorang kehilangan nyawa.

“Rokok mengandung ribuan senyawa Pb, yaitu senyawa yang dapat menyebabkan kanker. Berdasarkan riset, kanker termasuk dalam salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia,” terang dokter berkaca-mata ini.

Berhenti merokok atau ‘istiqomah’ merokok, ungkapan seperti itu pada akhirnya kerap muncul di kalangan para perokok. Tentu saja masing-masing memiliki pendapat pribadi bergantung sudut pandangnya sendiri.

KH Fatchurrohman, pengasuh Ponpes Nahdlatut Tholibin Al-Islamiyyin (NTI) mengungkapkan, sejauh ini belum ada dasar khusus yang mengarah pada hukum merokok. Selama ini hukum rokok masih sering menjadi perdebatan.

“Prespektif rokok tergantung si perokok itu sendiri. Jika si perokok mendapat kemaslahatan (kebaikan) dari merokok maka rokok diperbolehkan, misalnya jika tidak merokok tidak dapat berpikir, merasa pusing atau sakit. Begitu pula sebaliknya,  jika si perokok mendapat kemadharatan (keburukan) dari merokok maka rokok menjadi haram, misalnya jika merokok akan bertambah sakit, dan sebagainya,” jelas KH Fatchurahman.

Dari kenyataan yang ada itu, bisa saja kita berpijak pada salah satu dasar yang digunakan sebagai rujukan sebagian ulama dalam menentukan hukum fiqih yaitu kaidah “jalbu masholih wa dar’u mafasid” atau mengambil kemaslahatan dan membuang kemadharatan. Tentu saja hal itu harus sesuai dengan konteks yang umum.

Selama ini, kendala orang yang sudah pernah merokok memang sulit untuk berhenti dan berpaling dari rokok. Dalam tembakau yang notabene menjadi bahan baku utama pembuatan rokok terdapat kandungan nikotin yang menyebabkan ketergantungan. Hal ini yang menyebabkan kebanyakan perokok susah berhenti dari kebangsaan merokok.

Mengubah kebiasaan memang susah. Namun dengan diawali kesadaran diri sendiri dan i’tikad baik untuk berubah akan membantu para perokok yang ingin berhenti dari aktivitas merokok. (Widya-/Red-MA)

Eyang Cungkup Ndalem, Pembawa Santri Pertama di Kebonharjo


PONDOK PERTAMA : Ponpes Nahdlatut Tholibin al-Islamiyyin (NTI) menjadi pesantren yang pertama kali berdiri di Desa Kebonharjo. (Majalah Al-Ittihad)
Al-Ittihad - Beberapa abad silam Desa Keben atau yang biasa kita sebut Kebonharjo Kecamatan Jatirogo Tuban, kedatangan seorang ulama besar yang pertama kali membawa risalah Islam di wilayah ini. Beliau bernama Eyang Cungkup Ndalem yang memiliki nama asli M Thohir atau biasa dipanggil Mbah ndalem. Ia merupakan  pejuang dari tanah Ambon yang kala itu  sebagai demang di Keben.

Tidak hanya Mbah Ndalem, setelah beberapa tahun Keben juga disinggahi seorang pejuang yang saat itu sebagai anak buah Pangeran Diponegoro. Beliau adalah Mbah Buyut Pande, seorang ulama’  yang berasal dari Kota Rembang Jawa Tengah.  Mbah Buyut Pande juga dikenal sebagai pembuat benda-benda pusaka.

Dari pejuang tersebut, hanya keturunan Mbah Buyut Pande yang sampai saat ini bisa meneruskan memperjuangkan Agama Islam di Desa Kebenharjo, yaitu lewat seorang putrinya yang bernama Buyut Senen.

Setelah beranjak dewasa  Buyut Senen tercatat  dipersunting oleh Mbah Towijoyo (seorang ulama’ dari Desa Paren Kabupaten Rembang). Dari semua keturunan keturunan mereka hanya dari Mbah Toyiban yang sampai saat ini bisa meneruskan perjuangan mesyiarkan ajaran Islam di Kebenharjo.

Dengan semakin maraknya masyarakat yang memeluk Agama Islam, Mbah Toyiban akhirnya punya inisiatif untuk membangun pondok pesantren. Pesantren itu adalah yang pertama kali berdiri di daerah Kebonharjo.

Perjuangan pun tak berhenti, santri Mbah Toyiban terus bertambah hingga berasal dari luar daerah seperti Demak, Bojonegoro, Lamongan, Kendal dan masih banyak dari daerah-daerah lainnya. Konon, dari berbagai riwayat cerita Mbah Toyiban juga diyakini memilki santri dari bangsa jin. Jin-jin tersebut saat itu mengabdi bersama beliau dalam menyebarkan Agama Islam.

Perlu diketahui, pada masa itu bangunan masjid dan pesantren masih begitu sederhana. Bangunannya berbahan gladak dan pagar bambu. Setelah banyak santri yang menghuni pesantren, akhirnya keluarga dari Mbah Toyiban pindah dan bergeser ke sebelah barat jalan yang saat ini ditempati Ponpes Nahdlatut Tholibin Al-Islamiyyin (NTI).

Setelah Mbah Toyiban wafat, perjuangan pun dilanjutkan oleh anak cucunya KH Ridlwan dan KH Masduki. Hingga sampai saat ini pesantren berada di bawah naungan KH. Fatchurrohman yang merupakan salah seorang putra dari KH Ridlwan. (Tulisan ini merupakan penggabungan cerita dari para sesepuh Desa Kebonharjo/Fatim-Masithoh/Red/MA)

Madrasah Perlu Miliki ‘Kultur Madrasah’

Oleh : Da’in Muthoha SE *)

Madrasah hendaknya menjadi tempat di mana semua siswa dapat belajar dengan baik. Madrasah harus menjadi lembaga yang adil dengan memberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang sama baik secara kualitas maupun kuantitas bagi setiap siswa. Ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap anak dilahirkan dengan tingkat kecerdasan bawaan yang sama dan kemampuan lebih, merupakan hasil pencarian ketimbang anugerah.

Seorang anak bisa menjadi lebih atau kurang cerdas disamping tergantung pada kondisi keluarga, juga pada lingkungan sosial dan pendidikan ia alami. Di sinilah madrasah diharapkan dapat memainkan peranan penting dalam pembentukan intelektual, emosional, dan spiritual anak.

Madrasah seharusnya menjadi wadah pemupukan kecerdasan setiap siswa dan di atas segalanya. Hal itu untuk menjamin agar setiap anak mendapat kesempatan belajar yang sama dan layak. Untuk mendapatkan hasil pendidikan yang optimal tersebut, madrasah perlu memiliki kultur yang seharusnya memang dimiliki oleh madrasah. Kultur tersebut di antaranya adalah lingkungan yang teratur, kesepakatan dan kerjasama antarguru, konsentrasi kepada kemampuan dasar dan waktu yang dibutuhkan untuk belajar, pemantauan terhadap kemajuan siswa, administrasi dan kepemimpinan, kebijakan yang melibatkan orang tua dan harapan yang tinggi.

Berkenaan degan itu, tiga karakter dasar madrasah perlu dikembangkan secara menyeluruh di semua madrasah. Tujuannya, agar dapat menciptakan madrasah yang mendekati kriteria-kriteria idealisme pendidikan yang diharapkan.

Pertama, memiliki kultur yang kuat. Kultur merupakan jiwa madrasah yang memberikan makna bagi setiap kegiatan kependidikan Madrasah dan menjadi jembatan antara aktifitas dan hasil yang dicapai. Kultur adalah sebuah keadaan yang mengantarkan siswa madrasah melebihi batas-batas kekurangan manusiawi menuju tingkat kreativitas, seni dan intelek yang tinggi. Kultur juga merupakan kendaraan untuk mewujudkan atau  mencapai nilai-nilai pendidikan. Karena itu kultur Madrasah, dalam hal ini kultur belajar, haruslah dibangun sejak awal agar semua elemen madrasah memiliki komitmen untuk kemajuan madrasah.

Kedua, kepemimpinan kolaboratif dan belajar kolektif. Kepemimpinan dalam madrasah haruslah didefinisikan sebagai sebuah proses belajar bersama yang saling menguntungkan yang memungkinkan seluruh unsur warga madrasah turut ambil bagian  dalam membangun madrasah. Kolaborasi yang dimaksud bukan hanya sekedar berarti setiap orang mampu menyelesaikan pekerjaannya, tapi yang terpenting adalah semuanya dilakukan dalam suasana kebersamaan dan saling mendukung. Kolaborasi menjadi menjadi learning organization (belajar berorganisasi) karena hal itu berhubungan erat dengan norma dan kesempatan bagi terjadinya proses belajar yang terus menerus.

Ketiga, membiasakan siswa mengadapi perubahan. Hidup adalah perubahan secara alami yang tidak bisa diprediksi. Agar bisa memahami dan berbuat dalam kondisi yang tidak bisa diprediksi tersebut, sebuah upaya pendidikan yang terus menerus, seumur hidup menjadi sebuah kemestian. Dengan kata lain untuk menciptakan budaya belajar yang terus menerus maka perubahan perlu diciptakan.

*) Penulis adalah guru Mapel IPS dan Olahraga MTs Ulumiyyah.


`

Saiful


(Muslimahdaily.com)


Saiful

Athoirrohman, S. Pd. I *)


Di hari ke tujuh wafatnya ibunya, Saiful masih saja termenung murung di kamar dan tak mau keluar. Pandangan matanya nanar dan berkaca-kaca menandakan masih ada kesedihan mendalam yang tersisa. Pak Dhe Sarjono, paman satu-satunya Saiful yang melihatnya dari seberang pintu kamar hanya menghela nafas dalam seperti ada kesedihan yang tertahan.

"Ful, ayo makanlah, Nak! Sudah seminggu ini kamu makan hanya sedikit saja," suara Pak Dhe Sarjono memecah keheningan kamar Saiful.

Ia hanya menoleh barang sekejap saja tanpa menyahut meski sepatah kata. Pandangan Saiful menatap ke atas langit-langit kamarnya. Ia tampak sangat terpukul dengan kepergian ibunya yang sangat ia cintai. Ibunya yang selama ini mengasuhnya sendirian saja dan tanpa bapaknya yang pergi meninggalkan ibunya semenjak Saiful masih berusia dua bulan.

Dari cerita pamannya, Saiful sedikit tahu tentang gambaran sosok ayahnya adalah orang kota. Ayah Saiful adalah seorang kontraktor yang cukup sukses. Perawakannya tinggi, gagah dan kulitnya bersih. Ibu saiful bertemu ayahnya saat ibunya bekerja di kota Semarang hingga akhirnya mereka menikah. Setelah menikah, ibu Saiful tidak lagi bekerja di kota karena dilarang suaminya dengan alasan untuk fokus mengurus anak saja.

Apalagi sudah hamil, maka ia kembali ke kampung halamannya, di daerah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah sementara sang suami tetap berada di kota untuk mengurus pekerjaannya. Selanjutnya itu menjadi titik tolak cerita kehidupan Saiful dan ibunya. Semenjak kepergian suaminya ke kota, ayah Saiful itu tidak pernah kembali lagi ke desa barang sekali saja. Hingga Saiful lahir dan tumbuh menjadi anaka seusia SMA, tak pernah sekalipun melihat sosok ayahnya selain dari foto yang sudah kusam simpanan ibunya. Yang datang secara rutin hanyalah uang kiriman yang jumlahnya cukup besar untuk sekedar mencukupi kebutuhan hidup di desa.

Keadaan ini menjadikan kehidupan Saiful sangat berbeda dari anak-anak lain di desanya, kiriman uang yang rutin setiap bulan datang dari ayahnya itu sangat lebih dari cukup sehingga kondisi ekonomi keluarga Saiful tergolong kaya untuk ukuran orang desa hanya dengan uang kiriman ayahnya saja. Sehingga ibunya tak perlu lagi bersusah payah bekerja lagi.

Saiful pun sangat dimanja karna ia anak satu-satunya. Hal ini menjadikan Saiful memiliki sifat yang kurang baik.  Ia pun tumbuh menjadi anak yang bandel, badung dan “kemlinthi”  dan bossy sejak masih usia SD. Di sekolah sering sekali Saiful bertengkar dengan temannya, tapi ia punya banyak teman sebab sering mentraktir jajan.

Kenakalan Saiful semakin menjadi-jadi saat ia sekolah SMP. Baru masuk pertengahan semester kelas satu saja Ibunya sudah menerima panggilan guru BK gara-gara Saiful bertengkar dengan anak dari kelas lain. Dari rumah berangkat sekolah tapi tidak sampai sekolah sudah menjadi kebiasaan Saiful. Semakin naik kelas, tabiat Saiful bukan malah surut tetapi semakin akut. Di kelas dua Ia sudah punya geng berisi rata-rata anak bandel di sekolahnya. Saat menginjak kelas tiga menjadi puncak kebandelan Saiful. Ia dan kawan-kawannya kerap membuat keonaran di sekolah, menjadikan kegiatan pembelajaran sekolah terganggu. Bahkan saiful tak hanya sekali dipanggil ke ruang BK karena ketahuan merokok di kantin. Tapi Ia tetap bisa naik kelas karena ibunya rajin menyambangi wali kelas Saiful dengan membawa buah-buahan dan makanan.

Di awal semester pertama kelas tiga, Saiful dikeluarkan dari sekolah karena pihak sekolah sudah tidak bisa mentolerir masalah yang diperbuatnya. Ibu Saiful tak bisa menerima keadaan itu. Berbagai cara pendekatan ia lakukan agar Saiful tetap bisa sekolah di sana. Namun reputasi sekolah menjadi taruhan jika tetap mempertahankan keberadaan Saiful. Sehingga ia tetap dikeluarkan dari sekolah itu dengan status tidak baik.

Ini menjadikan saiful tidak bisa diterima di sekolah lain. Berbagai cara dilakukan ibunya untuk bisa memasukkan Saiful ke sekolah. Tapi melihat catatan buruk Saiful di sekolah pertama, banyak sekolah lain yang enggan menerimanya.

Drop-out dari sekolah, tak menjadikan kenakalan Saiful berkurang justru semakin parah. Ia kerap keluar naik motor yang sudah di complong knalpotnya di jalan-jalan kampung sehingga suara mesinnya menjadi sangat bising menggangu telinga orang-orang. Saiful pun menjadi buah bibir di kampungnya. Ia sudah dikenal dengan kenakalannya. Banyak ibu-Ibu yang menyumpah serapahi saiful saat ia lewat dengan motornya “amit-amit jabang bayi, jangan sampai punya anak seperti saiful,”. Begitulah yang kerap terucap dari orang-orang di kampungnya Saiful.

Mendegar rasan-rasan ini, ibu Saiful pun sebenarnya juga resah. Ia tak enak hati dengan para tetangga dan masyarakat desanya. Sampai-sampai ibunya punya keinginan bagaimana agar saiful dikirim ke kota saja menyusul ayahnya dan sekolah di sana. Tapi ia tak tahu harus kemana mencari ayah Saiful.  Pak Dhe Sardjono, kakak dari ibunya, menyarankan bagaimana kalau Saiful dipondokkan saja daripada di kampung menjadi buah bibir buruk. Paling tidak, di pesantren nanti Saiful bisa belajar untuk manjadi anak yang baik. Saran ini diterima ibunya. Ia pikir inilah solusi terbaik untuk menangani Saiful.

Pondok pesantren Alfalah asuhan KH. Husain menjadi pilihannya. Pondok yang terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah itu dipilih karena tergolong pesantren tua dan kini berkembang sudah punya sekolah formal. Jadi nanti Saiful selain mengaji juga diharapkan bisa melanjutkan sekolahnya yang terputus. Saiful pun diberangkatkan ke sana dengan diantar ibu dan pak dhenya. Abah Husain, panggilan akrab pengasuh pondok Alfalah itu dengan senang hati menerima Saiful meski sang ibu saat sowan telah meceritakan bagaimana tabiat anaknya sewaktu di rumah. Bagi Abah Husain, tugas pendidik memang harus bersedia mendidik anak tanpa pilah-pilah. Senakal-nakal anak, ia tetaplah anak yang punya potensi untuk menjadi baik, sabar dan mendo’akan anak didik itulah kunci dan yang menjadi ruh pendidikan. Abah Husain memang dikenal sebagai kyai yang welas asih nan bijaksana. Keluarga Saiful pun menjadi lega dan sangat berterima kasih atas sambutan baik dan penerimaan Saiful nyantri di sana.

Hari demi hari dilalui saiful di pondok Alfalah. Namun saiful tetaplah Saiful dengan segala tabiatnya di rumah masih saja terbawa. Di pondok itu Saiful menjadi satu-satunya santri yang bandel. Belum genap tiga bulan mukim di sana, Saiful sudah membuat ulah. Ia ketahuan keluar malam ke kampung sekitar pondok untuk bermain play station dan merokok. Saiful pun dibawa santri keamanan pondok untuk dihadapkan pada Abah Husain.

“Ada apa, Kang?” tanya Abah Husain pada santri keamanan yang menghadap.
“Begini, abah. Saiful ini keluar dari pondok untuk main play station di kampung dan merokok. Kebetulan kami memergokinya saat kami keliling kampung untuk tugas patroli malam,” jawab Kang Huda, keamanan senior pondok Alfalah.
“Apa benar begitu, Ful?” Abah Husain menanyai Saiful yang sedari tadi menunduk gemetaran.

Saiful tak berani mengangkat wajah dan bersuara, hanya anggukan pelan saja saat ditanya Abah Husain.

Kang Huda memberanikan diri matur, ”Apa hukuman yang sebaiknya diberikan untuk Saiful ini, abah? Mengingat dua pelanggaran yang dilakukan, main play station dan merokok,”.

Abah Husain diam sejenak kemudian berucap dengan suara tegas tapi lembut, ”Sudah, bawa Saiful kembali ke kamarnya saja,”. Kalian tutup gerbang pondok dan lanjutkan tugas kalian seperti biasanya!”.

Kang Huda tak berani membantah apa yang diperintahkan Abah Husain, Ia pun membawa Saiful kembali ke kamarnya dengan rasa penasaran mengapa abah tidak memberi vonis hukuman pada Saiful?. Padahal menurut aturan pondok, apa yang dilakukan Saiful ini tergolong pelanggaran berat yang hukumannya tidak ada toleransi.

Sekembalinya di kamar, Saiful merenung penasaran mengapa dirinya tak dihukum oleh Abah Husain. Tapi di sisi lain ia juga senang karena lolos dari hukuman. “Ah, biarlah, yang penting aku aman, tak dihukum,” gumamnya.

Dua hari setelah kejadian itu, setelah jamaah magrib, Abah Husain mamanggil Saiful untuk menghadap. Saiful pun menghadap dengan membawa perasaan khawatir bercampur rasa takut. Tapi ia tetap menghadap meski dengan menahan gemetar. ”Wah, jangan-jangan abah memanggilku karena kejadian kemarin?” kata Saiful dalam hati.

Setiba di ruang tamu ndalem abah, Saiful langsung dikagetkan dengan suara abah dari balik korden ruang tamu, “Ful, kamu bisa naik motor?”.
“Saget, abah,” jawab Saiful dengan suara yang agak tertahan bercampur penasaran mengapa abah menanyai itu.
“Antarkan abah ke acara kondangan di rumah pak Rt kampung sebelah. Biasanya yang antar Kang Huda tapi dia sedang belanja disuruh ibu tadi. Jadi abah minta kamu saja yang antar,”.
“Inggih abah,” Saiful tak berani menjawab lain kecuali mengiyakan dawuh abah.
“ayo berangkat, tak enak nanti kalau lama ditunggu Pak Rt,”.

Seusai kondangan dan pamitan pulang pada pak Rt, abah menghampiri Saiful yang menunggui motor. “Ayo pulang Ful, pelan-pelan saja. Nggak usah terburu-buru,” perintah abah kepada saiful saat menyalakan mesin motor.
“Inggih, bah,” jawab Saiful pelan.
Mereka pun berangkat dengan mengendarai motor matic milik abah. Di perjalanan, Abah Husain membuka percakapan dengan Saiful yang sedari tadi diam saja.
“Ful, mau sampean abah ceritai?” tanya Abah.

“Inggih, bah” jawab Saiful dengan pelan.
Abah Husain pun memulai ceritanya. Kisah yang Abah Husain dapat sewaktu masih nyantri di pesantren Jawa timur.

Begini Ful, Diceritakan seorang Kyai Fulan, beliau sangat masyhur di daerahnya. Bukan saja kealiman ilmunya tetapi budi pekertinya juga sangat baik. Suatu saat sang Kyai diundang kenduri oleh warganya. Maka beliau bergegas menghadiri undangan tersebut dengan mengajak seorang santri sebagai pendamping.

Jamuan pun dihidangkan dan kyai juga tidak ketinggalan menikmati hidangan yang disediakan
tuan rumah. Selesai makan sang kyai merasa ada "sesuatu" yang mengganggu pada giginya. Ya ada sisa daging yang menyelilit, kyai sudah berusaha menghilangkan sisa makanan tetapi gagal. Rupanya tidak ada alat untuk digunakan menghilangkan sisa makanan itu.

Setelah selesai sang kyai segera pulang. Tapi dia masih terganggu oleh sisa makanan. Karena terganggu maka sang kyai berusaha mencari alat untuk menghilangkan sisa makanan itu. Di sebuah perkebunan beliau melihat pagar dari bamboo. Tanpa pikir panjang beliau memerintahkan santrinya untuk mematahkan bambu yang akan digunakan menghilangkan sisa makanannya.

Waktu terus berjalan, kemudian sang Kyai Fulan meninggal dunia. Suatu hari sang santri yang dulu mengantar sang kyai berziarah. Entah mengapa sang santri tertidur di makam sang kyai. Di tengah tidurnya sang santri bermimpi bertemu dengan sang kyai itu.

"Assalamu'alaikum wahai kyai," kata Santri.
"Walaikum Salam santriku," jawab kyai.
"Waduh kyai kenapa badannya seperti ini? Bukankah kyai ahli ibadah," tanya santri penasaran karena melihat badan kyainya penuh sisa cambukan.
"Oh santriku, memang aku ahli ibadah. Namun kau masih ingatkan waktu pulang dari kenduri. Aku mencuri bambu, dan rupanya si pemiliknya tidak rela. Sehingga aku disiksa demikian," kata sang kyai sambil menunjukkan luka-luka di badannya.
"Santriku, tolong aku. Mintakan kehalalan dari pemilik kebun yang kucuri pagar bambunya itu," kata kyai sambil menangis.

Sang santri terjaga dari tidurnya. Ia segera pulang dan menemui pemilik kebun yang dulu pagar bambunya dicuri sang Kyai. Sang santri menceritakan hal ihwal yang menimpa kyainya. Kemudian pemilik kebun menghalalkan apa yang telah diambil sang kyai.

Pada waktu yang lain sang santri bermimpi bertemu dengan sang kyai. Dalam mimpinya kali ini sang santri melihat wajah sang kyai berseri-seri dan tubuh yang bersinar-sinar. Rupanya setelah sang pemilik kebun menghalalkan, maka Allah pun juga mengampuni dosanya.

Renungkan cerita tadi Ful, agar kita terhindar dari perbuatan yang tidak terpuji, meskipun itu sangat sepele. Kalimat terakhir Abah Husain itu bagai palu yang memukul dinding hati Saiful. Ia yang sedari tadi diam menyimak cerita Abah Husain semakin terdiam tak berkata-kata. Sesampai di pondok, Saiful masih merenungi ucapan abah. Semalam suntuk ia tak bisa tidur. Berbagai perasaan berkemacuk di dadanya, mulai dari  pelanggaran yang ia lakukan dan dilaporkan ke abah, sampai ia tak dihukum, dan cerita dari abah tentang kyai serta pesan yang disampaikan setelahnya.

Pagi-pagi setelah subuh, dengan menahan kantuk yang dahsyat, ia dikagetkan lagi dengan panggilan dari pengeras suara kantor pondok yang menyuruhnya untuk segera ke kantor.
“Ada ada apa lagi ini,” gumam Saiful sambil berlari kecil menuju kantor.

Sesampainya di kantor, ia terkejut melihat Pak Dhe Sardjono sudah menyambutnya dengan wajah seperti menahan tangis.
“Ful, ayo pulang, Nak., ibumu tidak ada”
Duerrrrrrr! Seakan suara petir halilintar menyambar Saiful yang berdiri mematung.

*** Selesai ***

*) Pegiat musik padang pasir dan pengajar Bahasa Inggris di MA Unggulan Ulumiyyah.














Sabtu, 22 Oktober 2016

Hari Santri, Santri Adu Ketangkasan Masak Terong

KREASIKAN TERONG : Santri Ponpes NTI Kebonharjo berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam adu kreasi masakan berbahan terong dalam rangka menyambut hari santri 2016 (Al-Ittihad)
Al-Ittihad – Ada hal berbeda dari rangkaian peringatan hari santri 2016, di Ponpes Nahdlatut Tholibin al-Islamiyyin (NTI) Kebonharjo Jatirogo. Minggu, (23/10) seluruh santri Ponpes NTI menggelar adu kreasi mengolah makanan berbahan terong.

Ada 12 kelompok santri yang mengikuit perlombaan dengan bahan utama terong itu. Mereka diberikan waktu selama dua jam menyajikan makanan bebas dengan bahan utama terong. Sontak, setelah bel tanda dimulainya perlombaan berbunyi, seluruh santri yang tergabung dalam kelompok-kelompok berbeda itu heboh mempersiapkan penyajian makanan.

Sebagian santri bertugas memasak nasi liwet, dan sebagian lagi menyiapkan bumbu untuk menu yang akan dibuat. Ada juga santri yang ditugasi untuk mempersiapakan aneka hiasan penyaji demi menarik dewan juri.

Dari 12 kelompok yang ambil bagian dalam perlombaan itu, sebagian besar menyajikan menu khas pesantren, sambel terong. Sebagian lagi mencoba mengkreasikan terong menjadi sajian unik, sate terong. Bahkan ada kelompok santri yang nekat mencoba mengolah terong menjadi gorengan campur telor.

Pengasuh Ponpes NTI, KH Achmad Alam Farid mengatakan, perlombaan yang pertama kali digelar itu untuk memberikan apresiasi kepada para santri. Terong merupakan bahan makanan wajib yang umum ada di setiap pesantren.

“Santri pasti tidak lepas dari sambel terong. Maka, kami membuat lomba memasak dengan bahan terong dan nasi liwet pas di saat momen hari santri 2016. Santri harus bangga dengan identitas mereka,” kata lelaki yang akrab disapa Gus Mad ini.

Sementara itu, seorang seorang santri, Anin Maulidiyawati mengaku terhibur dengan perlombaan masak berbahan dasar terong itu. Lomba seperti ini sebagai sebuah penghargaan terhadap kebiasaan yang dilakukan oleh santri.

Selain itu, dalam perlombaan ini santri juga diuji kekompakannya. Sebab, setiap kelompok yang beranggotakan setidaknya 20 santri membuat mereka harus bisa berbagi tugas dengan yang lain.

“Dengan waktu hanya 2 jam dan kami harus menghidangkan sajian dengan bahan utama terong yang unik dan lezat. Ini berat namun nikmat. Kami dituntut untuk kompak dan bersatu agar menghasilkan sajian yang menggoda para juri,” ungkapnya. (Red)

Hari Santri, Mati Sahid atau Hidup Merdeka

APEL SANTRI : Seluruh santri Ponpes Nahdlatut Tholobin al-Islamiyyin (NTI) Desa Kebonharjo Jatirogo menggelar upacara dalam rangka hari santri 2016 di halaman MTs dan MA Unggulan Ulumiyyah (Al-Ittihad)

Al-Ittihad – Santri Ponpes Nahdlatut Tholibin al-Islamiyyin (NTI) Kebonharjo menggelar upacara hari santri 2016 pada Minggu 23 Oktober. Upacara diundur sehari lantaran pada 22 Oktober kemarin ada agenda rutin yang sudah jauh-jauh hari direncanakan oleh pengurus Ponpes.

Meskipun terlambat sehari, upacara hari santri tetap berlangsung khidmat meskipun di bawah rintik hujan. Semua santri mengikuti jalannya upacara dengan menggunakan sarung dan berpeci. Tidak ada keseragaman pada kostum mereka. Hal ini sebagai simbol bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesuia (NKRI) berdiri di atas keberagaman.

Bertindak sebagai pembina upacara, sesepuh Ponpes NTI, KH Abdul Manaf. Dalam sambutannya Kyai Manaf menjelaskan kepada santri NTI tentang resolusi jihad yang dicetuskan oleh KH Hasyim As’ari.

Kyai Manaf juga menceritakan betapa heroiknya perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka bahu-membahu bertempur seperti singa kelaparan melawan sekutu yang dikomandoi oleh Inggris dalam pertempuran Surabaya.

“Pertempuran tiga hari tiga malam itu berhasil menewaskan jenderal Inggris, AWS Mallaby. Santri dan para pemuda tanpa rasa takut sedikit pun melawan kecanggihan tentara sekutu. Mati sahid atau hidup merdeka, itu pilihan mereka,” jelas Kyai Manaf berapi-api.

Menurut Kyai Manaf, santri era kini harus terus memperjuangkan cita-cita luhur yang telah dibuat oleh para pendahulu bangsa. Santri sejati harus menjunjung tinggi NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945. “Mari kita semua santri NKRI, berkarya untuk negeri. Dari santri untuk negeri, negeri yang berdiri di atas keberagaman, Indonesia,” tandasnya.

Ketua panitia peringatan hari santri 2016, Da’in Munthoha mengatakan, rangkaian peringatan hari santri digelar untuk menumbuhkan kembali sikap dan identitas santri. Sehingga keberadaan hari santri ini akan selalu menjadi momentum perjuangan dalam mengawal kemerdekaan Indonesia. (Red)

Sabtu, 08 Oktober 2016

Banin-Banat, Tradisi Pesantren yang Harus Dipertahankan

(Majalah Al-Ittihad)

Al-Ittihad – Tahun ini pembangunan gedung baru gencar-gencarnya dilakukan  oleh Yayaan Ponpes al-Barmawy Kebonharjo. Setelah keberhasilan pembangunan dua ruang gazebo di tahap pertama, kini yayasan pimpinan KH Fatchurahman itu kembali menyelesaikan pembangunan empat unit gazebo baru.

Gazebo tersebu terbukti banyak membuat banyak siswa lebih bersemangat dalam mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Selain empa unit gazebo, tahun ini Yayasan Ponpes al-Barmawy juga membuat lahan parkir parkir dan kantin madrasah baru.

Dalam praktiknya, penggunaan gazebo sebagai ruang kelas ternyata mampu memberikan banyak dampak positif. Selain lebih sejuk dan bisa melihat pemandangan sekitar, pembuatan ruang kelas dengan model gazebo juga memangkas nilai pembangunan. Sehingga anggaran dari yayasan bisa dipecah untuk keperluan pos lainnya.

Penambahan ruang kelas di lembaga pendidikan dalam naungan Yayasan Ponpes al-Barmawy ini sebagai pendukung untuk mencapai visi yayasan. Sejak pertama kali berdiri Yayasan Ponpes al-Barmawy memang memiliki cita-cita untuk menempatkan siswa putrav dan putri dalam rungan terpisah.

Tahun ini, pemisahan ruang kelas untuk putra-purti resmi dimulai. Meskipun awalnya hanya sebagian Rombongan Belajar (Rombel) saja yang dipisah, namun sekarang pemisahan sudah dilakukan secara keseluruhan. Berlaku di MTs dan MA Unggulan Ulumiyyah.

Tradisi Pesantren Harus Dilaksanakan  

Sejak dahulu lembaga pendidikan bercorak pesantren selalu menjalankan tradisi Islam dalam konteks formal. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh dampak globalisasi yang semakin merasuk hingga setiap jengkal kehidupan. Bagi kalangan umum, batas pergaulan antara perempuan dan laki-laki cukup tersamar. Ini yang harus dicoba untuk ditegakan dalam lingkup pendidikan pesantren.

Oleh karena itu, pemisahan ruang kelas putra (banin) dan putri (banat) yang merupakan salah satu tradisi dalam pesantren harus selalu dikedepankan. Hal itu sebagai salah satu filter terhadap dampak globalisasi zaman. “Pemisahan ruang kelas sebagai wujud pelaksanaan tradisi pesantren,” ungkap seorang pengurus Yayasan Ponpes al-Barmawy, KH. Abdul Manaf.

Dalam konteks Ulumiyyah, jumlah peserta didik yang belum begitu banyak menjadi salah satu kendala pelaksanaan kebijakan pemisahan ruang kelas. Sehingga, ada beberapa Rombel yang jumlah siswanya kurang dari 20 anak.

Menurut KH Abdul Manaf, sedikitnya jumlah siswa dalam satu Rombel bukan menjadi alasan kemunduran proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Justru sebaliknya, hal itu akan menjadi motivasi dan dorongan bagi siswa untuk bisa meraih prestasi terbaik dalam bidang pendidikan.

“Saya merasa lebih bersemangat ketika belajar dalam rungan kelas yang terpisah dengan putri. Suasana belajar berjalan lebih enjoy dan fokus,” kata Nur Khamid, seorang siswa kelas XII MA Unggulan Ulumiyyah. (Makruf-Red)

Pemisahan Ruang Belajar Putra dan Putri, antara Keharusan dan Pilihan

Moh Yusron, M. Pd. I
Oleh : Ahmad Yusron, M. Pd. I

Al-Ittihad - MA Unggulan Ulumiyyah yang kini berusia dua tahun lebih, terus berbenah untuk menjadi lembaga pendidikan yang patut dilirik oleh masyarakat berdasarkan kualitas. Kualitas tersebut meliputi prestasi maupun sistem penyelenggaraan pendidikannya. Slow but sure (pelan tapi pasti), barangkali itulah semboyan yang sesuai untuk menggambarkan usaha Ulumiyyah meningkatkan kemajuannya.

Pengasuh Ponpes Nahdlatut Tholibin al-Islamiyyin (lebaga yang berada satu yayasan dengan MA Unggulan Ulumiyyah) KH. Fathurrahman pernah menuturkan, lembaga pendidikan Ulumiyyah adalah pondok pesantren yang terdapat sekolah formal di dalamnya. Bukan sekolah formal yang punya pondok pesantren.

Apabila dicermati, makna  pernyataan tersebut sangat mendalam. Lembaga pendidikan yang terletak di Desa Kebonharjo ini dulunya pondok pesantren salafiyyah. Lambat laun agar mampu mengikuti perkembangan zaman, didirikan lembaga pendidikan Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madrasah Tsanawiyyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Ulumiyyah Unggulan. Tentunya, bukan perkara mudah untuk mewujudkan bangunan-bangunan tempat tarbiyyah para santri tersebut. Awal mula MA ada, bangunannya masih menginduk dengan bangunan MTs. Itu pun ruang kelas masih ditempati siswa putra dan putri, campur dalam satu ruang tanpa ada satir (penghalang).

Sebuah lembaga yang awal mulanya berbais pesantren tentu menginginkan sistem pendidikannya berpegang teguh pada tatanan syari’at Islam dan mengibarkan panji-panji keislaman di dalamnya. Untuk itu, yang awalnya ruang kelas XI dan X masih dicampur putra dan putri, sekarang sudah mulai dipisah. Salah satu langkahnya dengan mendirikan kelas-kelas berbentuk gazebo.

Pada sekolah umum, fenomena kelas campuran antara putra dan putri wajar dilaksanakan. Namun berbeda halnya dengan di Ulumiyyah yang notabene lembaga formal berbasis pesantren. Ulumiyyah harus mengedepankan etika pendidikan Islam. Sistem pendidikan Islam berbeda dengan sistem pendidikan umum, dalam kaitannya pelaksanaan prinsip berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan teladan salaf as-shalihin.

Pemisahan antara siswa dan siswi merupakan prinsip dalam penyelenggaraan pendidikan Islam. Ada dua cara pemisahan siswa putra dan putrid. Pertama, dipisah dengan ruangan kelas yang berbeda dan kedua dipisah hanya menggunakan satir berupa kain atau papan. Jika dipisah dengan satir, tentunya harus dibuatkan akses jalan yang berbeda antara para siswa dan siswa. Sehingga paling utama adalah dipisah di ruang kelas yang berbeda.

Dalam hukum fikih disebutkan, Ikhthilat baina an-nisa’ wa ar-rijal (bercampurnya orang laki-laki dan perempuan) adalah awal dari timbulnya fitnah. Itulah mengapa dalam urusan shalat berjama’ah, shaf (barisan) antara laki-laki dan perempuan dibedakan dengan maksud untuk menghindari adanya ikhthilat.

Dikisahkan dalam hadis, saat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam membangun sebuah masjid, dan membuat sebuah pintu yang diperuntukkan untuk perempuan dan beliau bersabda : “Seorang laki-laki pun tidak boleh memasuki pintu ini”. (HR. Abu Dawud)

Hadis ini dijadikan dasar hukum oleh para ulama ahli fiqih tentang larangan berbaurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram di dalam masjid karena berakibat pada kerusakan. Begitu halnya dengan hukum larangan berbaurnya laki-laki dan perempuan dalam keperluan mencari ilmu. Sayyidatina ‘Aisyah Radliyallahu ‘anha ketika menyampaikan hadis kepada jamaah muslimin, selalu berada di belakang satir. Hal ini mempertegas bahwa pola pembelajaran Islami harus mencerminkan pengamalan syari’at Islam. Boleh saja kita mengadopsi pola pembelajaran modern dari Barat, asalkan tidak bertentangan dengan rambu-rambu ajaran Islam.

Hisham Attalib, dkk dalam bukunya Parent –Child Relations: A Guide to Raising Children memaparkan panjang lebar tentang pentingnya memisahkan anak laki-laki dan anak perempuan di kelas. Hal itu dianggap sangat bermanfaat untuk pendidikan maupun proses belajar mereka.

Lalu, sejak kapan anak-anak sebaiknya dipisah berdasarkan jenis kelaminnya saat melakukan proses belajar?. Hisyam Ath-Thalib, dkk, merekomendasikan agar pemisahan itu dimulai semenjak kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Mereka bisa tetap berada dalam satu sekolah yang sama, tetapi ruang kelasnya berbeda. Pada waktu-waktu tertentu, dapat saja ada kegiatan bersama yang melibatkan anak laki-laki maupun perempuan, tetapi secara prinsip mereka dipisahkan ruang kelasnya.

Ternyata pada akhir-akhir ini prinsip pemisahan kelas, mampu dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan atas nama The Good School Guide. Penelitian itu berhasil menemukan fakta bahwa sebagian besar dari 71.286 penemuan yang mengikuti program sekolah menengah (The General Certificate Secondary) di sekolah sesama perempuan antara tahun 2005 dan 2007 lebih baik hasilnya. Sementara itu, lebih dari 647.942 perempuan yang ikut ujian di sekolah campuran (pria/wanita) 20% lebih buruk dari pada yang diharapkan.

Ada sebuah pernyataan yang dari Syaikh Zainuddin al-Malibari, “Melihat (ke lain jenis) adalah anak panah yang dilumuri racun”. Sehingga ketika mata sudah teracuni oleh obyek yang dilihat (lawan jenis), kemudian racun tersebut turun ke hati dan menjadikan hati sulit melepaskan pengaruh tersebut. Hati yang menjadi jalan masuknya ilmu, harus dihindarkan dari pengaruh-pengaruh buruk tersebut agar pancaran ilmu menerangi hati kita.

Dari semua pandangan dan rujukan tentang pokok bahasan di atas, sedikit mengerucut sebuah kesimpulan bahwa pemisahan ruang belajar antara siswa putra dan putri pada konteksnya bukan sekedar pilihan. Hal itu adalah keharusan yang harus diusahakan berdasarkan hadist, kajian fiqh, fatwa ulama’ maupun penelitian ilmiah. Allahu a’lam.

*) Alumnus Pendidikan Agama Islam (PAI) STAIN Kudus, saat ini mengajar di MA Unggulan Ulumiyyah dan Universitas Islam Darul Ulum (Unisda) Lamongan.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Keren, Ponpes NTI Kembangkan Biogas Berbahan Tinja Santri

BIOGAS RAMAH LINGKUNGAN : Ponpes NTI Kebonharjo Jatirogo sudah mulai menggunakan biogas berbahan tinja untuk keperluan memasak ratusan santri putra dan putri di sana.

Al-Ittihad, edisi 5 - Pondok Pesantren (Ponpes) Nahdlotut Tholibin al-Islamiyyin (Ponpes NTI) Kebonharjo Jatirogo di tahun 2016 ini mulai mengembangkan biogas untuk pertama kalinya. Program tersebut mulai dijalankan di Ponpes NTI pada Ramadan 2016 lalu dan hingga kini menjadi penopang utama kebutuhan logistik santri di sana.

Uniknya, biogas tersebut tidak menggunakan bahan baku dari kotoran hewan. Cukup ekstrim, ternyata bahan baku dari biogas untuk memasak semua kebutuhan makan santri itu berasal dari tinja santri sendiri.

Menurut pengasuh Ponpes NTI, KH Achmad Alam Farid, penggunaan biogas berbahan tinja santri ini merupakan hasil studi banding di Ponpes Dadapan, Desa Dadapan Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang.

Berawal dari hal itu, akhirnya pengurus Ponpes NTI bersepakat untuk mengembangkan biogas yang dikenal ramah lingkungan itu. Butuh dana hingga Rp 27 juta untuk bisa membuat biogas berbahan tinja untuk kebutuhan ratusan santri.

“Awalnya pembuatan biogas dengan bahan baku tinja ini terkendala dengan minimnya dana. Selain itu, tenaga untuk proses pengerjaannya juga sulit didapat. Namun, akhirnya demi kebutuhan santri sendiri, biogas bisa digunakan hingga sekarang,” jelas pengasuh yang akrab disapa Gus Mad ini.

Seorang santri Ponpes NTI, Alvina Nadhirotun mengatakan, penggunaan biogas berbahan tinja ini terbukti mampu menekan biaya kebutuhan makan santri. Sehingga, anggaran yang awalnya untuk kebutuhan elpiji, saat ini bisa dialihkan santri di bidang lainnya.

Selain itu, proses memasak menggunakan biogas berbahan tinja ini juga diyakini berjalan lebih cepat. Kondisi itu mendukung mobilitas santri yang setiap hari memiliki jadwal kegiatan yang sangat padat.

“Biogas juga dapat meringankan tenaga kerja memasak. Awalnya, proses masak cukup lambat menjadi lebih cepat. Seperti memasak nasi yang awalnya membutuhkan waktu 3 jam menjadi hanya 1 jam saja,” ujar Alvina.

Selama ini, tidak ada dampak negatif terkait penggunaan biogas berbahan baku tinja. Aroma perapian yang ditimbulkan dari kompor juga tidak menimbulkan dampak berupa bau menyengat. Selain itu, aspek keamanan sejauh ini juga terjamin dan tidak menimbulkan dampak bahaya. (Ima/Vivin/Isma-MTs/Red)

Jumat, 30 September 2016

Ta’ziran Unik ala MTs Ulumiyyah

TA’ZIRAN UNIK : Sejumlah siswa MTs Ulumiyyah yang tidak mengikuti shalat dhuha berjamaah mendapatkan ta’ziran shalat berjamaah di Halaman MTs Ulumiyyah.
Al-Ittihad, edisi 5 – Setiap sekolah atau madrasah, sudah pasti memiliki aturan yang sudah disepakati bersama. Aturan tersebut sebagai benteng untuk membatasi kenakalan siswa yang belakangan kerap terjadi.

Begitu juga di MTs Ulumiyyah. Lembaga pendidikan yang terletak di Desa Kebonharjo Kecamatan Jatirogo itu, memiliki aturan sendiri untuk para peserta didik. Aturan itu termasuk meliputi model ta’ziran atau hukuman.

Soal model ta’ziran, MTs Ulumiyyah tergolong memiliki model yang cukup unik. Ada beberapa macam ta’ziran yang sudah biasa diterapkan di lembaga yang berada di bawah naungan Yayasan Ponpes al-Barmawy itu.

Menurut Pembina OSIS MTs Ulumiyyah, Ustadz Da’in Munthoha, ta’ziran yang paling banyak diterapkan di lembaga ini adalah shalat dhuha di halaman madrasah. Biasanya ta’ziran tersebut diberlakukan kepada siswa yang melanggar aturan tidak ikut shalat dhuha berjamaah.

“Siswa yang tidak mengikuti jamaah shalat dhuha diminta untuk shalat di tengah-tengah halaman madrasah dan sudah pasti dilihat oleh semua siswa yang sedang menjalankan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Diharapkan mereka akan merasa malu dan tidak akan mengulanginya kembali,” ujar ustadz yang juga merupakan pelatih futsal ini.

Menurut ustadz pengampu olahraga ini, MTs Ulumiyyah sama sekali tidak menerapkan hukuman dengan model kekerasan. Sebab, hukuman model itu diyakini tidak akan membuat siswa menjadi jera justru rentan menimbulkan perasaan dendam.

“Apa pun ta’zirannya, yang terpenting adalah tidak memberatkan siswa. Ta’ziran harus memberikan edukasi kepada siswa tanpa disertai dengan unsur kekerasan sekecil apa pun. Apalagi jika sampai menghilangkan hak-hak yang seharusnya dimiliki siswa,” imbuhnya.

Seorang siswa kelas IX MTs Ulumiyyah, Zufidah mengatakan, pengaruh model ta’ziran yang diterapkan di madrasah cukup berpengaruh terhadap sikap siswa secara keseluruha. Siswa kan berusaha bersikap lebih disiplin dan mentaati aturan untuk terhindar dari ta’ziran.

“Awalnya mereka mentaati atura dan disiplin karena takut dita’zir. Namun, lama kelamaan hal itu akan menjadi kebiasaan positif yang dilakukan oleh siswa,” tandasnya. (Miftah-Habibah-red)

Selasa, 27 September 2016

Bakal Ajak Istri dan Kedua Orang Tua ke Tanah Suci

PAPARKAN VISI : Nasirussaad saat memaparkan visi dan misi dalam proses pemilihan Presiden OSIS MA Unggulan Ulumiyyah awal tahun 2016 lalu.
Al-Ittihad, edisi 5 - Sosok yang satu ini memang sudah tak asing lagi di jagad bumi Ulumiyyah. Maklum saja, saat ini jabatan tertinggi di kepengurusan OSIS MA Unggulan Ulumiyyah Kebonharjo berada di tangannya. Sudah hampir setahun ini ia adalah Presiden OSIS MA Unggulan Ulumiyyah.

Tahun ini, semua hal tentang kegiatan OSIS berada di genggaman cowok penghobi kemolekan alam ini. Nama lengkapnya adalah Nasirus Saad. Ia adalah siswa sekaligus santri Ponpes Nahdlatut Tholibin al-Islamiyyin (NTI) Kebonharjo Jatirogo yang datang dari kota Bengawan Solo, Bojonegoro.

Kak saad, begitulah siswa lain biasa memanggilnya. Saat ini ia duduk di kelas XII-B MA Unggulan Ulumiyyah. Dia terlahir dari pasangan Bapak Anwar dan Ibu Nur Sholihah. Masa kanak-kanaknya dihabiskan di kota yang terkenal akan dongeng Angkling Darmo tersebut. Uniknya, kak Saad butuh waktu 3 tahun untuk menamatkan pendidkan TK-nya. Alasan masih terlalu kecil untuk menginjak jenjang berikutnya.

Semenjak menginjakan kaki di MA Unggulan Ulumiyyah, kak Saad paling getol menggeluti dunia kaligrafi. Jari-jemarinya mulai mahir menari di atas lembaran-lembaran putih hingga tercipta bentuk mushaf-mushaf Al-Qur’an yang begitu indah. Dia pun pernah meraih juara II dalam lomba kaligrafi tingkat kecamatan.

“Sebenarnya saya tidak begitu minat dengan prestasi. Saya takut sombong sebagaimana kebanyakan orang ketika mendapatkan nikmat prestasi,” ujarnya.

Bujang yang terkenal dengan ketegasannya ini memiliki cita-cita cita-cita begitu mulia. Selain menjadi Direktur Utama di perusahaan yang akan dibuatnya sendiri, ia juga ingin pergi ke tanah suci bersama kedua orang tua dan istrinya kelak.

Entah kapan. Namun cita-cita itu akan selalu ia usahakan agar terwujud sempurna. Oleh karena itu, ia bertekad untuk terus mencari dan memperdalam ilmu agar memiliki bekal hidup di dunia dan akhirat. Sebuah cita-cita yang sangat mulia. “Saya ya saya. Saya bukan orang lain. Itulah prinsip yang selalu menjadi pedoman dalam hidup saya,” ujarnya.

Disinggung soal tentang jabatan yang saat ini diembanya, ia pun yakin bersama kabinetnya sekarang mampu bekerja lebih baik lagi dari yang sebelumnya. “Buat teman-teman dimana pun kalian berada, teruslah berdoa, kejarlah cita-ciamu, dan jadilah seperti kehidupan kupu-kupu terbang bebas ke angkasa,” pungkasnya. (Fatimah/Mimin-Wid)

Minggu, 25 September 2016

Peran Pesantren Salafi dalam Modernisasi

Oleh; Arsilia *)

Dilihat dari berbagai lensa kehidupan, pihak yang memotori kuatnya dunia Islam adalah para generasinya sendiri. Terkait itu, banyak dari kalangan yang merekomendasikan bahwa salah satu hal yang dapat digunakan untuk membentuk generasi Islam adalah pesantren salafi. Dimana tempat yang pertama kali dirintis oleh para walisongo. Inilah yang menjadi salah satu tonggak utama penyebaran islam di Indonesia.

’Pesantren Salafi - Modernsasi’ topik yang kini marak diperbincangkan. Pengertian pesantren menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah tempat para santri menimba ilmu. Sedangkan Salafi adalah kuno, serta Modernisasi yang berarti pembaharuan model yang tentunya tidak menggunakan model salafi yang ‘berupa utawi iki iku’.

Modernisasi merupakan hal baru yang mampu mempengaruhi segala aspek kehidupan baik dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama. Dari yang anak-anak, remaja, dewasa, sampai lansia yang mana kesemuaan dari ini dimotori oleh orang barat. Kesemuaan dari ini semua banyak yang tidak sesuai dengan ajaran salafi agama islam.

Salafi mengajarkan hidup sosial, gotong royong, kebersamaan. Namun kehidupan yang kini tengah terjadi di kalangan masyarakat sangat jauh dari itu. Paham individualisme telah mengisi setiap sudut kehidupan.

Berbeda dengan sistem yang digunakan salafi. Sistem ini selalu mengikuti jejak salafus sholeh. Mengkedepankan akhlak, moral dan hidup sosial.  Lebih-lebih kehidupan yang sudah tercermin dalam pesantren salafi, semuanya tidak pernah lepas dari goton royong dan sosial. Semua program yang diusung melibatkan banyak orang/santri seperti ro’an, musyawaroh, sorogan kitab, sampai bahtsul masail. Semuanya menderminkan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Kehidupan yang saling bertolak belakang, mungkinkan mampu bersanding dan berjalan selaras? Sedangkan kehidupan masing-masing dari mereka memiliki unsur pribadi yang sangat signifikan. Modernisasi telah mengunggulkan teknologi sampai kancah nasional dan mempengaruhi kepribadian yang mengarah pada sifat individulistik. Sebaliknya, salafi unggul dalam tatanan akhlak dan moral namunhanya mencakup bagian tertentu.

Pandangan penulis, dari kenyataan obyek jika dipandang dari lensa praktiknya, pesantren dapat berperan aktif dan bersanding dengan dunia modernisasi. Tentu saja dengan tetap membawa fungsimua.

Pertama, pesantren sebagai pembatas. Sub-sub yang sudah tersebar melalui teknologi sangatlah sulit dihentikan yang bisa dilakukan hanyalah membatasi. Tidak sepatutnya jika semua yang diproduksi dalam kecanggihan teknologi harus dikonsumsi. Karena dalam praktiknya pesantrenlah yang paling unggul mencetak moral dan akhlak yang baik. Pesantren membekali ilmu agar bisa membatasi mana yang layak diasumsi dan mana yang tidal layak.

Kedua,  Pesantren sebagai media penyaring. Pilah pilih dalam hal baru sangatlah penting. Di sinilah pesantren yang akan berperan yaitu dengan tetap mempertahankan apa yang telah diajarkan syariat. Tentunya juga mampu menyaring perkembangan akan kecanggihan teknologi yang kini hampir menguasai seluruh dunia. Sehingga dalam realisasinya, pesantren tidak dianggap senagai hal yang kuno.

Ketiga, Pesantren sebagai benteng. Semua perubahan pembaharuan dengan berbagai macam bentuknya, kebanyakan dari itu semua dapat merusak akhlak dan moral para generasi saat ini. Soal ini, pesantren dapat difungsikan sebagai  benteng untuk para generasinya. Wallahu’alam.

*) Siswa Kelas XII-A pengurus OSIS MA Unggulan Ulumiyyah

Minggu, 18 September 2016

Mengenal Sosok KH Fatchurrahman, Hafal Alfiah di Usia 13 Tahun

KH Fatchurrahman Kebonharjo


Al-Ittihad –  Bagi kalangan warga Nahdliyyin, tentu sudah tidak asing lagi dengan sosok KH Fathcurrahman. Pengasuh Pondok Pesantren Nahdatuth Tholibin Al-Islamiyyin (PP NTI) Kebonharjo ini, sudah sangat dikenal di kalangan Nahdliyyin lantaran kegigihan beliau dalam melakukan dakwah. Namun, belum banyak yang tahu perjalanan panjang kyai yang terkenal tawadhu’ ini, hingga akhirnya bisa menegakkan panji Islam, khususnya di bumi Ronggolawe, Tuban.

Kyai Fatchur lahir di Desa Kebonharjo Kabupaten Tuban sekitar tahun 1933. Saat itu, Tuban masih dalam penguasaan kolonial Belanda. Kyai Farchur kecil sudah mendapatkan ddikan keras tentang agama dari sang abah, KH Ridlwan. Bahkan, sangking khawatir pendidikan agamanya terbengkalai, KH Ridlwan melarang keras sang putra untuk ikut bersekolah di Sekolah Rakyat (SR-sebutan Sekolah Dasar zaman dulu).

Saat berbincang dengan reporter Al-Ittihad, Rabu (15/5) siang, kyai Fathcur menceritakan, meskipun sang abah melarang, beliau tetap ngotot secara sembunyi-sembunyi bersekolah di SR. Dalam pikiran beliau saat itu, adalah ingin mendapatkan ilmu umum, selain ilmu agama.

“Aku nyolong-nyolong melu SR, mergo pengen oleh ilmu umum. Lak ilmu agomo kan kan wes sinau karo bapak,” kenang belau berkaca-kaca.

Bahkan, untuk mengelabuhi sang abah, setiap akan berangkat ke SR, beliau tetap memakai sarung. Setelah sampai pada lokasi sekolah yang saat itu terletak di Jatirogo, dan berjarak sekitar dua kilo, barulah sarung dilepas dan digantikan dengan celana panjang. Pada akhirnya, kyai Fatchur tidak sampai menyelesaikan pendidikan di SR hingga lulus. Itu lantaran pada saat beliau menginjak kelas enam, Kyai Ridlwan memergokinya.

“Aku gak sampai lulus. Lha wong pas kelas enem konangan karo bapak. Bapak yo duko, banjur aku kon mendek gak oleh sekolah maneh,” tutur kyai Fatchur menerawang.

Meskipun kyai Fathcur tetap bersekolah di SR selama hampir enam tahun, namun ilmu pesantren sama sekali tidak ditinggalkan. Buktinya, di bawah arahan sang abah, beliau sudah hafal nadhoman Alfiah pada saat umur 13 tahun.

“Aku apal Alfiah yo umur 13 tahun. Seng nyemak yo bapak kui,” kata kyai Fatchur lagi.
Setelah ketahuan tetap ikut pendidikan SR, maka sang abah langsung membawa beliau ke Kajen, Pati untuk nyantri pada KH Thohir. Di sana, kyai Fatchur belajar di Madrasah Diniyyah Matholek. Karena rasa ingin tahu terhadap ilmu umum, setelah lulus dari madrasah Matholek, beliau kembali mencicipi pendidikan umum. Kali ini beliau bersekolah di Sekolah Menengah Islam (SMI).

Saat itu, sang abah juga tidak mengetahuinya. Namun belum sampia lulus, lagi-lagi sang abah, KH Ridlwan memergoki. Kontan saja, KH Ridlwan langsung membawa beliau ke Watucongol, Magelang. Di bawah asuhan KH. Thohir, secara total beliau nyantri selama tujuh tahun.

“Bar konangan bapak sekolah neng SMI, langsung aku dijak neng Solo. Karepe bapak dikon nyantri neng gone KH Idris. Nanging, jalaran neng kono sistem pesantrene wes owah, bapak marakno aku neng Watucongol Magelang. Sinau karo mbah kyai Dalhar,” cerita beliau.

Pertama kali sowan kepada KH Dalhar, sang abah dipesani agar selepas di Watucongol mengarahkan KH Fathcur untuk nyantri ke Tegaldowo. Baru delapan bulan bulan berguru, KH Dalhar wafat. Maka, KH fathcur pun menjalankan pesan KH Dalhar untuk melanjutkan nyantri di Tegalrejo kepada KH. Chudori.

“Nyantri lagi entuk wolong ulan mbah Dalhar kapundut. Banjur aku ngelanjutno neng Tegalrejo, koyok seng dipesenke mbah Dalhar naliko sugeng,” imbuh beliau.

Di Tegalrejo KH Fathcur nyantri selama kurang lebih delapan tahun. Bahkan. Karena pengetahuan agamanya dianggap sudah mumpuni, KH Fathcur sempat ditugasi menjadi menjadi seorang naib. Saat itu, sekitar tahun 1980-an, beliau ditugaskan di daerah Weleri, Kendal. Lagi-lagi, karena tidak setujunya abah, beliau harus melepas tugas menjadi naib.

Setelah delapan tahun menimba ilmu di Tegalrejo, KH Fathcur melanjutkan berpetualang nyantri di Sarang. Ma’hadil Ilmi As-Syar’iyyah (MIS), asuhan KH Imam bin Syuaib, menjadi pilihan beliau. Di sana, beliau nyantri selama empat setengah tahun untuk melengkapi ilmu agama yang sudah diperoleh sebelumnya.

“Dadi neng Sarang kuwi aku mondok terakhir. Bar songko Kajen, Pati, Watucongol, Tegalrejo banjur Sarang. Bar kui aku kawin,” ungkap beliau.

Dari perjalanan panjang memperdalam ilmu agama itu, ada sebuah prinsip yang selalu terpegang dan hingga kini ditanamkan kepada santri beliau. Prinsip tersebut, sesuai dengan apa yanga da dalam Ta’limul Muta’alim, terkait dengan proses mencari ilmu yang harus merasakan kangelan (kesulitan), tirakat, mikir tenanan (belajar sunggh-sungguh), sue mangsane (lama waktunya) serta milih guru (Bisa memilih guru yang ‘alim).

Satu lagi sejak pertama kali nyantri, KH Fathcur selalu menempati gothaan yang sebelumnya ditempati oleh ulama’-ulama’ besar. Gothaan-gothaan itu antara lain bekas KH Achmad Jazuli Ustman, pendiri Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso Kediri. (Ma’sum/Wahab)